Olahraga Ibu Menyusui Tanpa Sebabkan Masalah Menyusui

Pasca melahirkan, Anda tentu membayangkan bisa melakukan berbagai hal kembali yang sempat terkendala ketika mengandung. Salah satunya adalah melakukan olahraga untuk membuat tubuh kembali segar dan berat badan bisa kembali ideal. Namun, kebanyakan oran juga ragu untuk melakukan olahraga ibu menyusui karena berbagai sebab.

Kekhawatiran akan menurunnya produksi air susu ibu (ASI) menjadi hal utama yan menghalangi banyak orang melakukan olahjraga ibu menyusui. Di samping itu, banyak orang beranggapan olahraga akan menghabiskan banyak waktu sehingga sulit dilakukan sebab si kecil selalu ingin berada dalam dekapan. Alhasil selama menyusui, Anda pun menjadi tidak pernah olahraga sehingga berdampak pada kebugaran tubuh yang berkurang sampai bentuk tubuh yang sulit untuk kembali seperti ke awal sebelum hamil.

Padahal sebenarnya, olahraga ibu menyusui bisa dengan aman dilakukan. Melakukan olahraga ketika menyusui pun tidak serta-merta akan mengurangi produksi ASI Anda jika dilakukan dengan benar. Berikut ini tips-tips yang bisa Anda ikuti guna dapat melakukan olahraga ibu menyusui tanpa mengkhawatirkan produksi ASI maupun problematika waktu.

  • Sedikit Tambahkan Kalori

Ibu menyusui setidaknya membutuhkan 500 kalori lebih tinggi daripada kebutuhan wanita dewasa agar bisa menghasilkan produk ASI yang mencukupi. Jadi jika wanita dewasa membutuhkan sekitar 1.200—1.500 kalori per hari, ibu yang sedang menyusui baiknya mengonsumsi makanan dan minuman dengan nilai hingga 2.000 kalori.

Khusus jika Anda ingin melakukan olahraga ibu menyusui, tambahlah sedikit lagi asupan kalori Anda. Ini guna memastikan bahwa kalori yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi ASI tidak terganggu dengan kegiatan olaraga Anda. Satu gelas susu full cream ataupun satu porsi camilan sore bisa menjadi penolong untuk mempertahankan produksi ASI di tengah aktivitas olahraga.

  • Perbanyak Minum Air

Tubuh yang terhidrasi dengan baik bisa menjamin produksi ASI tetap terjaga. Sebaliknya ketika Anda mengalami dehidrasi, besar kemungkinan produksi ASI akan berkurang dan tidak mampu memenuhi kebutuhan tumbuh kembang si buah hati. Inilah yang perlu Anda waspadai sebab ketika berolahraga, tubuh cenderung lebih banyak mengeluarkan cairan yang bisa membuat dehidrasi.

Namun, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan olahraga ibu menyusui. Anda hanya perlu menyiasatinya dengan memperbanyak minum air putih sebelum dan sesudah berolahraga. Jika diperlukan, Anda juga bisa mengonsumsi susu kacang ataupun jus sayuran segar guna memastikan suplai ASI tetap terjaga, meskipun Anda aktif berolahraga.

  • Pompa Sebelum Berolahraga

Kemungkinan suplai ASI berkurang sesaat setelah berolahraga tetap ada. Namun tenang saja, ASI akan kembali terproduksi dengan lancar apabila jumlah kalori yang Anda asup mencukupi diserta hidrasi yang memadai. Hanya saja perlu diingat, anak Anda bisa meminta ASI kapan saja, tidak terkecuali bertepatan setelah Anda berolahraga.

Tidak perlu bingung. Anda bisa melakukan strategi memompa ASI sesaat sebelum olahraga. ASI yang dipompa tersebut khusus diperuntukkan jika anak meminta ASI sesaat setelah latihan Anda selesai. Anda kenyang, Anda pun bisa tenang. Memompa ASI sebelum olahraga juga dapat membuat latihan lebih nyaman karena menghindari payudara yang terasa penuh dan membuat Anda tidak bebas bergerak.

  • Olahraga di Rumah

Waktu adalah segalanya bagi ibu menyusui. Apalagi jika Anda kerap melakukan menyusui langsung, Anda mesti siap jika anak Anda ingin menyusu kapan saja ketika Anda tengah berolahraga.

Untuk mempermudah kegiatan olahraga sambil menyusui, baiknya lakukan olahraga simpel yang bisa dilakukan dari rumah. Yoga ataupun aerobik yang mengambil contoh dari pemutar rekaman DVD bisa menjadi pilihan.

***

Melakukan olahraga ibu menyusui akan membantu tubuh memproduksi hormon endorfin. Alih-alih bermasalah bagi produksi ASI, produksi hormon ini bisa mencegah Anda dari stres sehingga kuantitas dan kualitas air susu bisa terjaga.

Kenali Ciri Ciri Bayi Kuning Berikut Ini

Penyakit kuning, atau dalam dunia medis dikenal dengan nama jaundice, biasa ditemukan pada bayi yang terlahir premature. Penyakit ini biasanya muncul pada minggu pertama sejak bayi lahir, dan lebih sering dijumpai pada bayi laki-laki dibandingkan dengan bayi perempuan. Ciri ciri bayi kuning dapat dilihat dari warna kulit dan bagian putih mata yang tampak menguning. Pada bayi baru lahir yang sehat dan tidak premature, penyakit kuning bayi tidak perlu dikhawatirkan, dan biasanya akan hilang sendiri setelah beberapa hari. Namun, apabila perawatan dibutuhkan, bayi akan lebih responsif jika mendapatkan terapi non-invasif. Dalam kasus yang langka, penyakit kuning bayi yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak dan bahkan kematian.

Gejala

Ciri ciri bayi kuning yang paling tampak adalah warna kulit dan sclerae (bagian putih mata) yang berubah kuning. Hal ini biasanya bermula di bagian kepala, untuk kemudian menyebar ke dada, perut, lengan, dan kaki. Selain gejala tersebut, tanda-tanda penyakit kuning bayi lain di antaranya adalah mengantuk, kotoran yang pucat (bayi yang diberi ASI seharusnya memiliki kotoran berwarna kuning kehijauan, dan bayi yang diberi formula lewat botol memiliki warna kotoran mustard kehijauan), makan atau mengisap yang buruk, dan air seni (urin) berwarna gelap (urin bayi yang baru lahir harus jernih dan tidak berwarna. Dalam kasus yang lebih parah, ciri ciri bayi kuning juga melibatkan gejala serius seperti perut dan kaki yang kuning, mengantuk, tidak dapat bertambah berat badan, makan yang buruk, serta mudah terganggu.

Penyebab dan faktor risiko

Penyakit kuning pada bayi disebabkan oleh bilirubin yang berlebih. Bilirubin merupakan produk limbah, yang diproduksi ketika sel darah merah teruria. Biasanya sel darah merah diurai di dalam hati untuk kemudian dibuang dari tubuh lewat kotoran. Sebelum bayi dilahirkan, ia memiliki hemoglobin dalam bentuk yang berbeda. Setelah lahir, bayi akan mengurai hemoglobiin tua dengan cepat. Hal ini akan menyebabkan level bilirubin yang lebih tinggi dibandingkan dengan biasanya, dan perlu disaring keluar dari saluran darah oleh hati dan dikirim ke usus untuk dibuang. Akan tetapi, hati yang belum berkembang tidak dapat menyaring bilirubin dengan efektif, sehingga menyebabkan hyperbilirubinemia (bilirubin berlebih). Penyakit kuning pada bayi juga dihubungkan dengan gangguan kesehatan serius seperti penyakit hati, anemia sel sabit, pendarahan di bawah kulit kepala (cephalohematoma) yang disebabkan oleh persalinan yang sulit, sepsis atau infeksi darah, ketidaknormalan pada sel darah merah bayi, saluran empedu atau usus yang tersumbat, ketidakcocokan rhesus atau ABO (ketika ibu dan bayi memiliki golongan darah yang berbeda, antibodi ibu menyerang sel darah merah ibu), jumlah sel darah merah yang lebih tinggi (lebih sering dijumpai pada bayi berukuran kecil atau bayi kembar), defisiensi enzim, infeksi bakteri atau virus, hypothyroidism, hepatitis atau peradangan hati, hypoxia atau level oksigen yang rendah, dan beberapa jenis infeksi seperti syphilis dan rubella.

Sementara itu, faktor risiko terjadinya ciri ciri bayi kuning adalah lahir premature yang memiliki hati belum berkembang dan jarang buang air besar, menyebabkan penyaringan bilirubin yang lambat dan pembuangan bilirubin yang jarang. Bayi yang tidak mendapatkan cukup nutrisi atau kalori dari ASI juga dapat dehidrasi dan berisiko menderita penyakit kuning. Lebam pada saat lahir juga dapat menyebabkan sel darah merah untuk terurai dengan lebih cepat, sehingga menyebabkan level bilirubin yang lebih tinggi.