Cakram Terherniasi Dapat Didiagnosa Lewat Diskografi

Cakram yang terherniasi merupakan kondisi umum yang dapat menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman. Orang-orang sering menyebut kondisi ini dengan sebutan prolaps cakram. Dalam beberapa kasus, cakram terherniasi dapat menyebabkan rasa sakit, mati rasa, dan kelemahan pada tangan dan kaki. Namun, beberapa orang tidak merasakan rasa sakit, terutama apabila cakram tersebut tidak menekan saraf apapun. Gejala umumnya akan berkurang atau hilang setelah beberapa minggu, namun dalam kasus tertentu seseorang dapat membutuhkan operasi apabila gejala yang dirasakan bertambah semakin buruk. Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter umumnya akan melakukan diskografi dan pemindaian MRI/CT. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja yang perlu Anda ketahui tentang cakram terherniasi.

Gejala cakram terherniasi

Dalam beberapa kasus, seseorang tidak menunjukkan gejala apapun ketika mereka menderita cakram terherniasi. Apabila ada gejala tertentu, hal tersebut dikarenakan adaya tekanan pada saraf. Beberapa gejala yang umum dirasakan di antaranya adalah:

  • Mati rasa atau kesemutan. Hal ini terjadi pada bagian tubuh yang diberi pasokan oleh saraf.
  • Kelemahan. Hal ini terjadi pada daerah otot-otot yang terhubung dengan saraf, yang dapat menyebabkan seseorang terjatuh ketika berjalan.
  • Rasa sakit. Hal ini akan dirasakan pada tulang belakang dan dapat menyebar ke tangan dan kaki.

Apabila cakram terherniasai berada pada punggung bawah, rasa sakit tersebut akan memengaruhi pantat, paha, dan kaki. Kondisi ini lebih dikenal dengan sebutan sciatica, karena rasa sakit tersebut menjalar lewat saraf sciatic. Apabila masalah berada pada bagian leher, pundak dan tangan akan merasakan rasa sakit. Gerakan yang cepat dan tiba-tiba atau bersin dapat menyebabkan rasa sakit yang parah.

Diagnosa

Ada beberapa cara diagnosa yang dokter dapat lakukan guna membantu menentukan cakram terherniasi, mulai dari pemeriksaan fisik hingga diskografi. Dalam kasus pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa refleks, kemungkinan adanya daerah yang lunak di punggung, kekuatan otot, jarak gerakan, kemampuan berjalan, dan sensitivitas terhadap sentuhan. Pemindaian sinar-X juga dapat membantu dalam diagnosa kondisi ini. Jenis pemindaian lain yang dapat memberikan detail lokasi cakram yang terherniasi di antaranya adalah:

  • MRI atau CT. Tindakan medis ini dapat menunjukkan lokasi cakram dan saraf yang terdampak.
  • Diskografi. Prosedur medis ini melibatkan penyuntikan pewarna ke satu atau lebih pusat cakram lunak untuk membantu menunjukkan lokasi cakram yang retak.
  • Myelogram. Proses ini melibatkan penyuntikan pewarna ke cairan tulang belakang untuk kemudian dilanjutkan dengan pemindaian sinar-X. Diskografi dapat menunjukkan apakah cairan yang terherniasi memberikan tekanan pada sumsum tulang belakang dan saraf.

Perawatan

Cakram yang terherniasi dapat menyebabkan rasa sakit, namun perawatan yang tepat dapat mengurangi gejala yang ditimbulkan. Seseorang umumnya dapat mengatasi gejala dengan cara menghindari gerakan-gerakan yang dapat memicu rasa sakit serta mengikuti latihan dan konsumsi obat-obatan rasa sakit yang telah direkomendasikan oleh dokter. Perawatan yang tersedia untuk kondisi ini adalah obat, terapi, dan operasi.

Setelah mendapatkan diagnosa, baik lewat diskografi, myelogram, ataupun pemindaian MRI dan CT, dokter akan mentukan perawatan untuk Anda. Dalam kasus obat resep, obat-obatan OTC seperti ibuprofen dapat membantu mengatasi rasa sakit ringan dan sedang. Sementara itu, obat seperti pregabalin, gabapentin, dan duloxetine dapat mengatasi rasa sakit pada saraf. Terapi fisik dapat membantu menemukan posisi dan latihan dapat meminimalisir rasa sakit pada cakram yang terherniasi. Apabila gejala tidak membaik setelah mendapatkan perawatan lain, dokter dapat merekomendasikan operasi.

Macam-macam Reaksi Sengatan Lebah

Sengatan lebah biasanya menyebabkan reaksi lokal ringan

Sengatan lebah adalah luka yang disebabkan oleh lebah yang biasanya  disuntikkan ke dalam daging atau kulit seseorang. Sebagian besar sengatan spesies ini bisa sangat menyakitkan, dan karenanya sangat dihindari oleh banyak orang.

Sengatan lebah dapat menghasilkan reaksi yang berbeda bagi setiap orang, mulai dari rasa sakit sementara dan ketidaknyamanan hingga reaksi alergi yang parah. Memiliki satu jenis reaksi tidak berarti Anda akan selalu memiliki reaksi yang sama setiap kali Anda tersengat atau bahwa reaksi berikutnya akan lebih parah. Berikut beberapa reaksi sengatan lebah yang dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya:

  • Reaksi ringan

Sebagian besar waktu, gejala sengatan lebah kecil termasuk:

  1. Nyeri terbakar yang tajam dan instan di lokasi sengatan
  2. Munculnya bilur merah di area sengatan
  3. Sedikit bengkak di sekitar area sengatan

Pada kebanyakan orang, pembengkakan dan rasa sakit akan hilang dalam beberapa jam.

  • Reaksi sedang

Beberapa orang yang disengat oleh lebah atau serangga lain memiliki reaksi yang sedikit lebih kuat, dengan tanda dan gejala seperti:

  1. Kemerahan ekstrem
  2. Pembengkakan di lokasi sengatan yang secara bertahap membesar selama satu atau dua hari berikutnya

Reaksi sedang cenderung hilang dalam lima hingga 10 hari. Memiliki reaksi sedang bukan berarti Anda akan memiliki reaksi alergi yang parah saat berikutnya Anda tersengat.  Tetapi beberapa orang mengembangkan reaksi moderat serupa setiap kali disengat.  Jika hal ini terjadi pada Anda, bicarakan dengan dokter Anda tentang perawatan dan pencegahan, terutama jika reaksinya menjadi lebih parah setiap kali.

  • Reaksi alergi berat

Reaksi alergi yang parah (anafilaksis) terhadap sengatan lebah berpotensi mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan darurat. Sebagian kecil orang yang tersengat lebah atau serangga lainnya dengan cepat mengalami anafilaksis. Tanda dan gejala anafilaksis meliputi:

  1. Reaksi kulit, termasuk gatal-gatal dan gatal-gatal dan kulit memerah atau pucat
  2. Sulit bernafas
  3. Pembengkakan tenggorokan dan lidah
  4. Denyut nadi yang cepat dan lemah
  5. Mual, muntah atau diare
  6. Pusing atau pingsan
  7. Hilang kesadaran

Orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap sengatan lebah memiliki peluang 25% hingga 65% anafilaksis pada saat mereka tersengat. Bicaralah dengan dokter Anda atau spesialis alergi tentang langkah-langkah pencegahan seperti imunoterapi atau suntikan alergi untuk menghindari reaksi serupa jika Anda tersengat lagi.

Cara terbaik untuk menghindari komplikasi akibat sengatan lebah adalah dengan menghindari sengatan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diingat jika Anda tahu Anda atau anak Anda akan berada di luar dan di sekitar lebah atau tawon.

  • Hindari memakai warna-warna cerah, parfum beraroma, atau semprotan rambut.
  • Perlu diingat bahwa lebah dan tawon adalah makhluk sosial. Mereka hanya menyengat manusia untuk melindungi sarang mereka. Sehingga jika Anda tidak mengganggunya, mereka tidak akan mengganggu Anda.
  • Lebah dan tawon adalah binatang yang sangat lambat, kebanyakan orang bisa menghindarinya hanya dengan berjalan cepat.

Sengatan lebah adalah gangguan luar biasa.  Dalam kebanyakan kasus, sengatan lebah hanya mengganggu, dan perawatan di rumah adalah hal yang diperlukan untuk meringankan rasa sakit.  Tetapi jika Anda alergi sengatan lebah atau tersengat berkali-kali, Anda mungkin memiliki reaksi yang lebih serius yang memerlukan perawatan darurat.

5 Tanda Kanker Pankreas yang Perlu Diwaspadai

Kanker pankreas, penyakit yang tidak mudah dideteksi. Tapi, kadang terdapat tanda-tanda yang dapat menjadi peringatan sejak dini. Bila diketahui lebih awal, penyakit ini dapat ditangani. Karena tanda-tanda tersebut sering kali samar, maka kita perlu benar-benar waspada dan memerhatikan kondisi tubuh dengan cermat.

Pankreas memegang dua peran penting, yaitu memproduksi enzim yang membantu proses pencernaan serta produksi hormon. Insulin dan glukagon merupakan dua hormon yang diproduksi oleh pankreas.

Enzim pencernaan tersebut diproduksi oleh sel eksokrin pankreas, di sinilah 95% kasus kanker pankreas bermula. Sebagai jenis kanker dengan angka kejadian 3% dari seluruh kejadian kanker, risiko terjadinya kanker pankreas meningkat seiring bertambahnya usia.

Kasusnya yang sering kali ditemukan pada stadium lanjut membuat kanker pankreas menjadi 7% dari penyebab kematian akibat kanker. Walau tidak mudah, mengenali tanda-tanda awal penyakit ini memberi peluang lebih besar agar kanker pankreas dapat diketahui lebih dini.

Mengenal tanda-tanda kanker pankreas

Di bawah ini, beberapa kondisi yang layak diwaspadai. Tidak semua kondisi tersebut berakhir dengan kanker pankreas, namun Anda atau keluarga perlu waspada jika mengalaminya.

  1. Penyakit kuning

Kanker pankreas biasanya terjadi di pangkal pankreas, dekat dengan saluran empedu. Pada banyak kasus, tumor atau kanker tersebut menyumbat pelepasan empedu ke usus. Akibatnya bahan-bahan empedu menumpuk di dalam darah.

Salah satu yang paling jelas terlihat, kulit dan bagian putih mata berubah menjadi kekuningan. Warna kuning sendiri berasal dari bilirubin, zat kuning kecoklatan yang diproduksi oleh hati.

  • Kotoran berwarna pucat

Telah disebutkan sebelumnya, kanker dapat menyumbat penyaluran cairan empedu yang sudah bercampur dengan bilirubin ke usus. Nantinya, campuran empedu dan bilirubin akan bercampur dengan urin dan kotoran, lalu dikeluarkan dari tubuh.

Keberadaan bilirubin yang membuat kotoran berwarna kuning kecoklatan. Sehingga, dalam kondisi ini, mungkin akan ditemukan kotoran yang cenderung berwarna pucat atau abu-abu.

  • Nyeri perut

Nyeri pada perut kerap dirasakan oleh penderita kanker pankreas. Di dalam tubuh, jaringan tumor atau kanker yang berawal di pankreas membesar dan menekan organ lain, saat itulah penderita merasakan nyeri di perutnya.

  • Kehilangan berat badan

Seseorang dengan kanker pankreas dapat kehilangan nafsu makan. Selanjutnya, penderita mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja.

  • Mual dan muntah

Jaringan kanker yang terus berkembang dan membesar dapat menekan ujung perut dan menyumbatnya. Kondisi ini membuat makanan sulit lewat. Akibatnya, muncul rasa mual dan ingin muntah, serta nyeri setiap kali selesai makan.

Apabila ada di antara Anda yang mengalami tanda-tanda di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter dan menimbang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

Upaya pencegahan

Beberapa faktor pemicu kanker pankreas memang di luar kendali kita, seperti usia dan genetik. Namun, tetap ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit ini.

Berhenti merokok misalnya, merupakan langkah yang sangat penting untuk menurunkan risiko kanker pankreas. 20%-30% kasus kanker pankreas diduga terjadi akibat rokok.

Menjaga berat badan juga dapat membantu menurunkan risiko terkena kanker pankreas. Sekitar 20% orang yang kelebihan berat badan lebih berpotensi untuk mengalami gangguan medis yang satu ini.

Di samping itu, waspadalah pada paparan zat-zat kimia. Terus-menerus terpapar zat kimia tertentu meningkatkan risiko terkena kanker pankreas. Misal, zat kimia yang digunakan di dry cleaning atau pembuatan logam.

Kenali Jenis-Jenis Radang Otot

Sakit di bagian otot atau myalgia pasti pernah dialami oleh hampir semua orang. Biasanya penyebab dari sakit otot ini mudah dikenali, seperti akibat aktivitas fisik berat yang tidak terbiasa dilakukan, atau akibat cedera otot. Sakit pada otot juga bisa disebabkan oleh penyakit, misalnya demam berdarah atau penyakit autoimun yang menimbulkan radang otot atau myositis. Selain sakit pada otot, gejala radang otot lainnya adalah otot menjadi lemah, mudah tersandung, mudah jatuh, sulit kembali bangun saat terjatuh, sulit bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri, merasa kelelahan luar biasa setelah berjalan atau pun berdiri.

Radang otot disebut juga sebagai penyakit autoimun, kondisi ini muncul karena sistem kekebalan tubuh mengalami masalah dan malah menyerang sel-sel otot yang sehat. Ada beberapa jenis radang otot yang dapat mempengaruhi otot:

  1. Polimiositis

Jenis ini merupakan radang di berbagai otot tubuh. Paling sering terjadi radang otot di bahu, pinggul, paha dan penderitanya lebih banyak wanita. Gejala umumnya dapat muncul pada orang berusia antara 30 sampai 60 tahun.

  • Dermatomyositis

Selain radang otot, myositis jenis ini juga dapat menimbulkan ruam-ruam pada anak. Jenis ini juga lebih banyak diderita oleh wanita serta bisa juga terjadi pada anak-anak.

  • Miositis reaktif pasca infeksi

Radang otot ini muncul setelah infeksi virus. Jenis ini biasanya cenderung ringan saja dan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan tertentu.

  • Myositis inklusi tubuh

Jenis yang menyebabkan kelemahan pada otot kedua paha, otot lengan bawah serta oto tungkai sehingga penderitanya sulit untuk mengangkat bagian depan kaki dan jika berjalan tampak seperti menyeret kakinya, radang otot jenis ini biasanya banyak dialami oleh laki-laki berusia 50 tahun ke atas.

Selain otot pada anggota gerak, peradangan juga bisa terjadi pada otot tenggorokan dan otot dada sehingga menyebabkan sulit untuk menelan serta sesak nafas. Kelemahan otot yang terkena radang ini bisa membaik dan bisa kambuh kembali, akan tetapi tanpa pengobatan kondisinya akan cenderung memburuk.

Waspada Kencing Nanah yang Tidak Muncul dengan Gejala

Selain kencing batu, ternyata ada juga penyakit kencing nanah. Istilah ini merupakan penyebutan awam dari penyakit gonorrhea. Bakteri Neisseria gonorrhoeae menyebabkan infeksi menular seksual pada manusia. infeksi bakteri ini ditularkan melalui hubungan seksual, baik secara vaginal, anal maupun oral.

Ketika menyerang pria, sebagian besar dari mereka tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Hal tersebut juga berlaku jika infeksi bakteri ini menyerang wanita.

Oleh karena kencing nanah tidak bergejala, maka cara terbaik untuk mendeteksi apakah seseorang mengidap penyakit kencing nanah, yaitu dengan secara rutin melakukan tes infeksi menular seksual yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Bagi seseorang yang melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan maupun pernah menderita infeksi menular seksual lain, maka pemeriksaan diri secara rutin merupakan kewajiban. Tes ini dilakukan dengan menggunakan sampel urin.

Bagi pria yang mengidap kencing nanah, biasanya gejala akan muncul sejak hari ketiga atau kelima setelah terinfeksi. Namun, gejala ini juga dapat muncul sebulan kemudian. Sementara itu, bagi wanita yang mengidap infeksi bakteri gonorrhea ini, gejala dapat muncul dalam kurun 10 hari setelah tertular.

Gejala yang dapat muncul pada pria, antara lain keluarnya cairan berwarna putih kekuningan, seperti warna nanah dari penis yang disertai dengan rasa nyeri atau sensasi terbakar ketika buang air kecil. Selain itu, penderita juga akan mengalami dorongan yang lebih kuat untuk selalu membuang air kecil. Akan muncul pula pembengkakan pada testis yang disertai rasa sakit.

Bagi wanita, gejalanya akan serupa dengan pria, yaitu keluarnya cairan berwarna putih kekuningan dari vagina l yang terkadang disertai darah, rasa sakit dan nyeri ketika buang air kecil. Khusus untuk wanita, penyakit ini dapat menyebar hingga ke tuba falopi yang mengakibatkan munculnya rasa sakit pada perut bawah dan punggung bawah.

Secara garis besar setidaknya 90% infeksi kencing nanah tidak menimbulkan gejala signifikan, namun biasanya penderita akan merasa gatal-gatal di anus dan rasa sakit ketika buang air besar.

Kenali Gejala Hipotiroidisme pada Bayi

Beberapa negara maju telah melakukan skrining hipotiroid pada bayi sesaat setelah bayi dilahirkan. Namun, di Indonesia, proses skrining ini dilakukan hanya jika ditemukan gejala dari hipotiroidisme. Apa itu sebenarnya hipotiroidisme dan apa saja gejala yang dapat muncul pada bayi?

Hipotiroidisme adalah kondisi ketika hormon tiroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid diproduksi dalam jumlah yang rendah. Hormon ini berperan dalam mengoptimalkan metabolisme dan perkembangan otak bayi hingga ia berusia 2-3 tahun.

Proses skrining hipotiroidisme pada bayi penting untuk dilakukan. Pasalnya, gejala hipotiroid pada bayi terkadang tidak memunculkan tanda-tanda yang spesifik. Gejala hipotiroid baru akan muncul sebulan setelah bayi dilahirkan. Ada pun gejala-gejala hipotiroid yang mungkin dapat dialami oleh bayi, antara lain:

  • Berkurangnya berat badan.
  • Mengalami kondisi stunting atau gangguan pertumbuhan.
  • Mengalami pertumbuhan tulang yang tidak normal.
  • Otot-otot terasa lemah.
  • Kondisi pusar yang menonjol atau dalam bahasa medis disebut dengan hernia umbilikus.
  • Bayi terlihat lelah dan lunglai.
  • Bayi sering tertidur.
  • Mengalami kesulitan ketika akan menyusu.
  • Bayi menangis, namun lemah atau jarang sekali menangis.
  • Adanya suara atau rintihan serak dan parau.
  • Kulit berwarna pucat dan berubah menjadi kekuningan (jaundice), terasa dingin, dan kering.
  • Terdapat pembengkakan pada daerah leher akibat dari pembesaran kelenjar tiroid.
  • Ukuran lidah terlihat lebih besar dibanding dengan ukuran normal pada umumnya.
  • Mengalami konstipasi.
  • Mengalami myxedema atau kondisi perubahan kulit pada penderita hipotiroid yang disertai dengan pembengkakan dan penebalan kulit.

Gejala yang umumnya terjadi dan sering kali mengkhawatirkan sang ibu adalah ketika bayi lebih sering tertidur dan enggan untuk menyusu. Jika Anda menemui gejala-gejala tersebut pada bayi Anda, maka segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter spesialis anak agar dapat diperiksa dan ditangani secara cepat dan tepat.

Ada pun risiko seorang bayi menderita hipotiroid, antara lain akibat turunan dari ibu yang memiliki penyakit serupa, namun sudah tidak terkontrol. Alasan lain mengapa bayi dapat mengalami hipotiroid, yaitu akibat dari pembentukan kelenjar tiroid yang tidak sempurna atau posisi yang tidak sesuai.

5 Ciri-Ciri Mata Katarak yang Harus Anda Waspadai

Salah satu penyakit mata yang kerap dialami adalah katarak. Jenis penyakit mata yang satu ini tergolong cukup berbahaya karena dapat berakhir pada kebutaan. Walaupun begitu, kebutaan yang disebabkan oleh katarak bersifat reversibel atau dapat kembali ke kondisi normal setelah katarak ditangani. Seperti apa katarak itu sebenarnya dan apa saja ciri-ciri mata katarak yang perlu Anda waspadai?

Katarak adalah penyakit mata yang disebabkan oleh proses pengeruhan pada lensa mata. Kondisi ini terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang maupun karena faktor penyakit bawaan lain, seperti diabetes atau adanya trauma pada bola mata.

Pengeruhan lensa pada mata dapat mengganggu cahaya masuk mencapai bagian belakang dari bola mata, sehingga proses melihat dapat terhambat. Beberapa ciri-ciri mata katarak yang telah diketahui, antara lain:

  • Terganggunya penglihatan menjadi lebih berkabut atau berawan

Ketika proses pengeruhan pada lensa mata terjadi, Anda akan mengalami gangguan penglihatan, seperti penglihatan yang akan semakin kabur. Anda akan merasa bahwa proses penglihatan ditutupi kabut atau berawan, serupa dengan melihat suatu objek dari balik kaca yang tebal dan buram.

  • Mata lebih sensitif terhadap cahaya

Jika Anda merasa bahwa mata Anda lebih sensitif terhadap cahaya, maka hal tersebut dapat menjadi salah satu ciri mata katarak. Anda akan lebih mudah merasa silau ketika memalingkan pandangan searah dengan sumber cahaya. Sumber cahaya di sini bukan selalu berarti sinar matahari, namun juga lampu sorot pada kendaraan.

  • Penglihatan menjadi ganda atau berlipat

Seseorang yang mengalami katarak, akan mengalami penglihatan ganda atau dobel. Kondisi ini disebabkan oleh keruhnya lensa mata pada penderita katarak yang menyebabkan cahaya tersebar ke berbagai arah ketika akan masuk ke mata, sehingga cahaya tidak fokus pada satu titik.

  • Melihat halo atau lingkaran cahaya

Proses berpencarnya cahaya yang masuk ke mata tadi, dapat menyebabkan penderita katarak melihat halo atau lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya. Lingkaran cahaya tersebut serupa dengan bentuk cincin dengan memiliki berbagai warna dan berada di sekitar sumber cahaya.

  • Berubahnya pandangan menjadi kekuningan

Jika kondisi katarak menjadi lebih parah, maka penglihatan Anda berisiko akan berubah warna menjadi kekuningan. Kondisi ini disebabkan oleh gumpalan protein yang mengeruh pada lensa mata, sehingga ia berubah warna menjadi kuning atau kecokelatan. Dengan kondisi seperti ini, penderita katarak akan sulit membedakan warna.

Mengenal Barotrauma yang Membuat Telinga Nyeri di Perjalanan Udara

Barotrauma adalah cedera pada telinga yang disebabkan karena meningkatnya tekanan udara atau tekanan air. Cedera ini bisa dialami oleh penumpang pesawat terbang dan para penyelam saat terjadi ketidakseimbangan antara tekanan udara di telinga bagian tengah dan tekanan udara di luar sehingga menghalangi gendang telinga dari getaran.

Telinga bagian tengah terdiri dari gendang telinga dan area di belakangnya, pada bagian tengah telinga ini dihubungkan ke luar oleh sebuah saluran kecil yang disebut tuba eustachius. Saluran ini menghubungkan telinga ke bagian belakang mulut.

Contohnya saat kita menelan ludah, kita akan mendengar suara menelan tersebut di telinga yang sebenarnya merupakan gelembung udara bergerak melewati tuba eustachius. Gelembung-gelembung udara selalu bergerak ke telinga tengah untuk menyeimbangkan tekanan di dalam telinga kita. Barotrauma akan terjadi saat tuba eustachius tersumbat.

Kondisi yang terjadi pada penumpang pesawat, Barotrauma biasanya terjadi saat pesawat menurunkan ketinggian untuk bersiap mendarat. Tekanan udara yang mendadak berubah menyebabkan vakum atau ruang hampa udara di telinga bagian tengah sehingga gendang telinga tersebut ke arah dalam.

Kondisi tersebut bisa menyebabkan rasa nyeri seperti tertusuk di telinga dan juga berkurangnya pendengaran. Biasanya, penumpang pesawat udara merasa telinganya seperti tersumbat ketika Barotrauma terjadi. Barotrauma di pesawat terbang paling sering diderita oleh penumpang yang sedang mengalami pilek, memiliki alergi tertentu, atau sedang mengalami infeksi di telinga, hidung atau tenggorokan.

Selain itu, bayi dan anak-anak juga seringkali menjadi korban barotrauma di pesawat terbang karena ukuran tuba eustachius mereka yang lebih kecil dari orang dewasa dan lebih mudah tersumbat. Cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya Barotrauma adalah dengan menjaga tuba eustachius tetap terbuka. Jika Anda sedang pilek, atau mengalami infeksi THT sebaiknya tunda dahulu jadwal bepergian dengan pesawat terbang sampai kondisi Anda membaik.

Namun jika tetap perlu terbang, konsumsilah obat dekongestan kira-kira satu jam sebelum pesawat lepas landas. Pada penerbangan durasi yang panjang, tetaplah mengonsumsi dekongestan selama penerbangan sesuai dengan dosis dan petunjuk penggunaan di kemasan obat. Anda perlu menggunakan sumbatan telinga selama penerbangan untuk memperlambat terjadinya perubahan tekanan udara di telinga.