Penyebab dan Gejala Dermatitis Perioral, Ruam Merah di Sekitar Mulut

Dermatitis perioral adalah salah satu jenis peradangan kulit yang terjadi di area sekitar mulut. Akan tetapi gejalanya bisa menyebar sampai ke hidung, dagu, mata hingga dahi.

Dermatitis memang masalah yang cukup umum terjadi di masyarakat. Peradangan kulit ini sebenarnya bisa muncul di mana saja. Namun, salah satu yang cukup umum adalah dermatitis perioral ini.

Mengenal Gejala Dermatitis Perioral

Gejala yang umum terjadi dari dermatitis perioral ini seperti ruam benjolan merah. Kadang benjolan tersebut mengandung cairan atau nanah. Bisa juga bentuknya serupa jerawat di sekitar area mulut.

Peradangan yang sudah semakin memburuk bisa memicu munculnya sensasi terbakar hingga terasa gatal. Dermatitis di area mulut ini bisa dialami oleh siapa saja tanpa mengenal umur, ras, maupun etnis. Tapi, biasanya lebih umum dialami oleh wanita rentang usia 16-45 tahun.

Dermatiti juga mungkin muncul di kelamin. Gejalanya hampir sama dengan yang ada di mulut. Tetapi, bagian kulit yang terdampak adalah kulit dekat anus, skrotum, serta labia pada perempuan.

Penyebab Dermatitis Perioral dan Faktor Risiko

Penyebab pasti dermatitis perioral belum diketahui secara pasti. Akan tetapi diperkirakan peradangan ini muncul setelah penggunaan kortikosteroid oles yang dosisnya tinggi untuk pengobatan masalah kulit lain.

Peradangan kulit di area mulut ini juga bisa dipicu oleh semprotan hidung yang mengandung kortikosteroid serta kosmetik dengan kandungan tertentu.

Dermatitis di area mulut juga bisa diperparah karena adanya kandungan base petrolatum dan parafin pada produk krim kulit yang digunakan.

Ada beberapa faktor risiko yang sering dikaitkan dengan dermatitis perioral, seperti:

  • Keluarnya air liur terus menerus
  • Infeksi jamur dan bakteri
  • Reaksi alergi
  • Penggunaan pasta gigi dengan kandungan fluoroide
  • Adanya perubahan hormon
  • Reaksi alergi
  • Adanya masalah kulit lain seperti rosacea
  • Penggunaan tabir surya
  • Penggunaan pil kontrasepsi

Pengobatan Dermatitis Perioral dengan Tindakan Medis

Jika Anda mengalami perdangan kulit di area sekitar mulut, segeralah menemui dokter kulit. Terlebih jika gejala yang muncul sudah lama dan tidak kunjung hilang.

Apabila dermatitis perioral dibiarkan begitu saja tanpa adanya pengobatan, maka gejala akan bertambah parah dan membuat kulit Anda jadi lebih sensitif dan rentan mengalami infeksi maupun iritasi. Sehingga kulit akan semakin sulit untuk sembuh dan kembali normal. Adanya pengobatan medis diperlukan untuk mengatasi dermatitis perioral ini segera.

Berikut stratgei untuk mengatasi dermatitis perioral dengan pengobatan dari dokter, yaitu:

  1. Penghentian Menggunakan Kandungan Kortikosteroid

Hal pertama yang pasti dilakukan untuk mengatasi peradangan di area mulut ini adalah dengan menghentikan penggunaan pemicu munculnya dermatitis, yaitu kostikosteroid oles maupun semprotan untuk hidung. Sebab, adanya kandungan kortikosteroid ini memperburuk kondisi kulit akibat dermatitis perioral ini.

Mungkin dokter juga akan menyarankan Anda untuk menghentikan juga penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride dan krim wajah.

Berdiskusilah dengan dokter mengenai pengobatannya agar lebih maksimal.

  • Menggunakan Obat-obatan

Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu untuk mengobati dan mengatasi masalah dermatitis perioral ini. Berikut obat-obat yang mungkin diresepkan.

  • Antibiotik topikal seperti eritromisin dan metronidazole
  • Obat jerawat topikal seperti adapalene atau dengan asam azelat
  • Krim imunosupresif, misalnya krim pimekrolimus atau tacrolimus
  • Antibiotik oral seperti tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin atau isotretinoin untuk pasien dengan kasus yang lebih parah.

Ruam pada area kulit merupakan gejala umum yang bisa terlihat akrena dermatitis perioral ini. Penanganan dari dokter bisa dilakukan dengan menghentikan pemicu terjadinya peradangan ini, serta memberikan pengobatan dengan obat tertentu yang diberikan dokter.

Penyebab Mimisan Saat Hamil dan Upaya Pencegahannya

Pernahkah Anda mengalami mimisan saat hamil? Atau orang terdekat Anda mengalaminya? Ada saja hal-hal tak terduga yang bisa terjadi selama hamil, salah satunya adalah mimisan. Penyebab mimisan saat hamil bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Banyak bumil yang merasa khawatir akan hal ini. Apakah kondisi ini adalah hal yang wajar terjadi atau mengindikasikan adanya masalah tertentu? Berikut ulasannya.

Gejala mimisan selama kehamilan.

Sering kali, mimisan terjadi pada trimester pertama kehamilan. Namun, bisa saja mimisan terjadi trimester kedua dan ketiga kehamilan. Darah yang keluar bisa saja dari salah satu atau kedua lubang hidung dan berlangsung dari beberapa detik hingga hampir 10 menit.

Kadang-kadang, darah yang keluar bisa berupa darah segar atau darah kering dan berkerak di hidung. Darah yang sudah mengering ini sering tidak disadari oleh para bumil hingga mereka bercermin atau terasa ada yang mengganggu di hidungnya.

Mimisan yang sering tidak disadari lagi adalah ketika bumil tidur atau berbaring. Sebelum keluar dari hidung, Anda akan merasakan cairan darah mengalir ke bagian belakang tenggorokan.

Apabila Anda memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi, maka segeralah temui dokter jika Anda mengalami mimisan.

Penyebab mimisan saat hamil.

Mimisan yang terjadi saat hamil mungkin akan menjadi pikiran bagi para perempuan. Apalagi jika sebelum hamil tidak pernah mengalaminya. Dikutip dari Healthline, 1 dari 5 perempuan hamil bisa mengalami mimisan.

Penyebab mimisan saat hamil adalah meningkatnya volume darah saat hamil, bahkan mencapai 50 persen. Semua aliran darah yang bertambah ini diperlukan untuk mendukung kekuatan fisik Anda dan memberi makan janin yang sedang tumbuh selama kehamilan.

Adanya peningkatan volume darah ini membuat pembuluh darah ikut melebar untuk membantu kelancaran sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Tidak terkecuali pembuluh darah yang ada di sekitar hidung Anda. Akibatnya, banyak pula darah yang ikut mengalir ke bagian hidung. Bersamaan dengan peningkatan hormon selama kehamilan, kadang-kadang bisa menyebabkan mimisan.

Cara mengatasi mimisan saat hamil.

Saat Anda mengalami mimisan, maka segeralah lakukan ini untuk menghentikan perdarahannya.

  • Ambil posisi duduk dan cubit dengan kuat bagian lembut hidung, tepat di atas lubang hidung Anda. Lakukan selama 10 – 15 menit tanpa melepaskannya.
  • Arahkan tubuh ke depan dan bernapas lewat mulut. Hal ini akan membantu darah mengalir ke hidung Anda, bukan ke belakang tenggorokan.
  • Jangan dulu berbaring, karena dapat mengurangi tekanan darah di pembuluh darah hidung Anda, sehingga menghambat aliran darah.
  • Kompres dengan es di bagian batang hidung Anda.
  • Jika pendarahan tidak berhenti juga, maka segera hubungi bidan atau dokter kandungan.
  • Hindari membuang ingus, membungkuk, atau melakukan aktivitas berat, setidaknya selama 12 jam setelah mimisan.

Upaya mencegah mimisan selama hamil.

Bisa saja, Anda mengalaminya tanpa penyebab yang pasti. Setelah mengetahui penyebab mimisan saat hamil, Anda dapat melakukan tindakan pencegahan untuk meminimalisir risiko terjadinya mimisan. Menjaga tekanan darah dan tidak mengiritasi pembuluh darah sensitif di hidung adalah kunci menghindari mimisan. Langkah-langkahnya seperti ini:

  • Oleskan bagian dalam hidung dengan petroleum jelly atau lidah buaya agar kelembapannya terjaga.
  • Hindari mencubit atau menggosok hidung.
  • Tiup hidung dengan lembut jika merasa sesak atau pilek.
  • Bersin dengan mulut terbuka atau cukup tisu untuk menutupi mulut Anda.
  • Hindari kebiasaan sering mengupil.
  • Batasi penggunaan AC dan kipas angin.
  • Gunakan humidifier untuk menjaga kelembapan udara di rumah.
  • Tidak melakukan latihan yang berat, terutama yang banyak melompat atau membungkuk.

Setelah mengetahui penyebab mimisan saat hamil dan upaya pencegahannya, maka tidak perlu lagi khawatir berlebihan jika hal ini menimpa Anda atau orang terdekat Anda. Mimisan cukup sering terjadi pada kehamilan karena perubahan hormonal. Sekilas, penyakit ini memang terlihat menakutkan, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama tidak kehilangan banyak darah dan dirawat dengan baik selama di rumah.

Ini Bedanya, TB Paru Aktif dan Laten!

Penyakit Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Seseorang yang mengalami TB paru dapat menularkan kepada orang lain melalui air liur yang keluar saat batuk, bersin, tertawa, atau teriak. Saat di udara, bakteri ini pun masih bisa hidup selama berjam-jam hingga dapat menginfeksi orang. Ada dua jenis TB paru yang bisa dialami seseorang, yaitu TB paru aktif dan TB paru laten. Meskipun sama-sama mengalami TB paru, tapi ada perbedaan terhadap gejala dan derajat risiko.

Seberapa bahayakan TB paru aktif ini?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memprediksi ada sekitar 8 juta orang setiap tahunnya yang mengalami TB paru aktif secara global. Lebih lanjut, hampir 2 juta orang meninggal karena penyakit tersebut. Setiap 1 dari 10 orang yang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat mengalami TB paru aktif dalam hidupnya.

Meskipun pada tahun 2017 kasus ini mulai menurun sebesar 1,5 persen, penyakit ini masih menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan di seluruh dunia. Negara-negara berkembang yang mengalami angka kejadian paling tinggi adalah India, Pakistan, Filiphina, Cina, Afrika Selatan, Indonesia, dan Nigeria. Bahkan, negara-negara ini menyumbang 64% dari semua kematian terkait tuberkulosis pada tahun 2016.

Bedanya TB paru aktif dan laten.

Infeksi bakteri tuberkulosis ini tidak serta-merta membuat Anda langsung jatuh sakit. Dikutip dari Healthline, dari 2,5 miliar orang yang membawa bakteri tersebut, sebagian besar mengalami TB paru laten.

Orang dengan TB paru laten tidak dapat menularkan dan tidak menunjukkan gejala, karena sistem kekebalan tubuhnya kuat. Hanya saja, mereka mungkin dapat berkembang menjadi TB paru aktif. Bahkan, risikonya jauh lebih tinggi jika Anda juga memiliki kondisi medis lainnya yang membahayakan sistem kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS.

TB paru aktif adalah kondisi di mana sistem imun tubuh melemah, sehingga dapat diserang oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB paru aktif bisa saja pengaktifan kembali TB paru laten atau disebut juga TB paru reaktivasi. Hampir 90% kasus TB paru reaktivasi ini terjadi pada TB paru aktif. Selain paru-paru, tuberkulosis juga dapat menyerang sistem organ lainnya, seperti sistem pencernaan, otot, kulit, hati, dan reproduksi.

Apa saja faktor yang membuat TB paru laten bisa reaktivasi?

Seseorang yang mengalami TB paru laten ketika sistem imunnya melemah, maka bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat aktif kembali, berkembang biak, dan merusak jaringan paru-paru. Akhirnya, TB paru laten bisa menjadi TB paru aktif yang dapat menularkan infeksi kepada orang lain.

Ini tentu akan sangat berbahaya bagi orang-orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami TB paru laten. Oleh sebab itu, jika Anda berisiko terkena infeksi M. tuberculosis, segeralah konsultasikan dengan dokter. Anda mungkin akan melakukan pemeriksaan berupa tes infeksi TB laten dan dirawat jika hasil tes menunjukkan positif.

Kenali gejala TB paru aktif sejak dini.

Untuk mengetahui seseorang mengalami TB paru aktif, ada beberapa gejala khas yang diperlihatkan, seperti:

  • Batuk parah hingga 3 minggu.
  • Batuk darah atau dahak dari paru-paru.
  • Nyeri dada.
  • Sesak napas.

Gejala lainnya yang dapat menyertai adalah:

  • Berat badan turun.
  • Nafsu makan hilang.
  • Mual dan muntah.
  • Tubuh mudah kelelahan.
  • Demam dan menggigil.
  • Keringat malam.

Adapun orang dengan TB paru laten tidak memiliki gejala apa pun atau merasa sakit. Oleh sebab itu, penderita yang seperti ini harus lebih waspada, terutama jika tinggal atau bepergian dari lingkungan yang banyak kasus TB.

Catatan

Meskipun TB paru aktif menyebabkan kematian, tapi penyakit ini dapat disembuhkan jika ditangani dengan cepat dan tepat. Jangan lupa, selalu pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak, terutama jika Anda bekerja di rumah sakit yang banyak pasien TB. Tindakan pencegahan selalu lebih baik dibandingkan mengobati. Selalu jaga kesehatan, ya!

Cakram Terherniasi Dapat Didiagnosa Lewat Diskografi

Cakram yang terherniasi merupakan kondisi umum yang dapat menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman. Orang-orang sering menyebut kondisi ini dengan sebutan prolaps cakram. Dalam beberapa kasus, cakram terherniasi dapat menyebabkan rasa sakit, mati rasa, dan kelemahan pada tangan dan kaki. Namun, beberapa orang tidak merasakan rasa sakit, terutama apabila cakram tersebut tidak menekan saraf apapun. Gejala umumnya akan berkurang atau hilang setelah beberapa minggu, namun dalam kasus tertentu seseorang dapat membutuhkan operasi apabila gejala yang dirasakan bertambah semakin buruk. Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter umumnya akan melakukan diskografi dan pemindaian MRI/CT. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja yang perlu Anda ketahui tentang cakram terherniasi.

Gejala cakram terherniasi

Dalam beberapa kasus, seseorang tidak menunjukkan gejala apapun ketika mereka menderita cakram terherniasi. Apabila ada gejala tertentu, hal tersebut dikarenakan adaya tekanan pada saraf. Beberapa gejala yang umum dirasakan di antaranya adalah:

  • Mati rasa atau kesemutan. Hal ini terjadi pada bagian tubuh yang diberi pasokan oleh saraf.
  • Kelemahan. Hal ini terjadi pada daerah otot-otot yang terhubung dengan saraf, yang dapat menyebabkan seseorang terjatuh ketika berjalan.
  • Rasa sakit. Hal ini akan dirasakan pada tulang belakang dan dapat menyebar ke tangan dan kaki.

Apabila cakram terherniasai berada pada punggung bawah, rasa sakit tersebut akan memengaruhi pantat, paha, dan kaki. Kondisi ini lebih dikenal dengan sebutan sciatica, karena rasa sakit tersebut menjalar lewat saraf sciatic. Apabila masalah berada pada bagian leher, pundak dan tangan akan merasakan rasa sakit. Gerakan yang cepat dan tiba-tiba atau bersin dapat menyebabkan rasa sakit yang parah.

Diagnosa

Ada beberapa cara diagnosa yang dokter dapat lakukan guna membantu menentukan cakram terherniasi, mulai dari pemeriksaan fisik hingga diskografi. Dalam kasus pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa refleks, kemungkinan adanya daerah yang lunak di punggung, kekuatan otot, jarak gerakan, kemampuan berjalan, dan sensitivitas terhadap sentuhan. Pemindaian sinar-X juga dapat membantu dalam diagnosa kondisi ini. Jenis pemindaian lain yang dapat memberikan detail lokasi cakram yang terherniasi di antaranya adalah:

  • MRI atau CT. Tindakan medis ini dapat menunjukkan lokasi cakram dan saraf yang terdampak.
  • Diskografi. Prosedur medis ini melibatkan penyuntikan pewarna ke satu atau lebih pusat cakram lunak untuk membantu menunjukkan lokasi cakram yang retak.
  • Myelogram. Proses ini melibatkan penyuntikan pewarna ke cairan tulang belakang untuk kemudian dilanjutkan dengan pemindaian sinar-X. Diskografi dapat menunjukkan apakah cairan yang terherniasi memberikan tekanan pada sumsum tulang belakang dan saraf.

Perawatan

Cakram yang terherniasi dapat menyebabkan rasa sakit, namun perawatan yang tepat dapat mengurangi gejala yang ditimbulkan. Seseorang umumnya dapat mengatasi gejala dengan cara menghindari gerakan-gerakan yang dapat memicu rasa sakit serta mengikuti latihan dan konsumsi obat-obatan rasa sakit yang telah direkomendasikan oleh dokter. Perawatan yang tersedia untuk kondisi ini adalah obat, terapi, dan operasi.

Setelah mendapatkan diagnosa, baik lewat diskografi, myelogram, ataupun pemindaian MRI dan CT, dokter akan mentukan perawatan untuk Anda. Dalam kasus obat resep, obat-obatan OTC seperti ibuprofen dapat membantu mengatasi rasa sakit ringan dan sedang. Sementara itu, obat seperti pregabalin, gabapentin, dan duloxetine dapat mengatasi rasa sakit pada saraf. Terapi fisik dapat membantu menemukan posisi dan latihan dapat meminimalisir rasa sakit pada cakram yang terherniasi. Apabila gejala tidak membaik setelah mendapatkan perawatan lain, dokter dapat merekomendasikan operasi.

Macam-macam Reaksi Sengatan Lebah

Sengatan lebah biasanya menyebabkan reaksi lokal ringan

Sengatan lebah adalah luka yang disebabkan oleh lebah yang biasanya  disuntikkan ke dalam daging atau kulit seseorang. Sebagian besar sengatan spesies ini bisa sangat menyakitkan, dan karenanya sangat dihindari oleh banyak orang.

Sengatan lebah dapat menghasilkan reaksi yang berbeda bagi setiap orang, mulai dari rasa sakit sementara dan ketidaknyamanan hingga reaksi alergi yang parah. Memiliki satu jenis reaksi tidak berarti Anda akan selalu memiliki reaksi yang sama setiap kali Anda tersengat atau bahwa reaksi berikutnya akan lebih parah. Berikut beberapa reaksi sengatan lebah yang dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya:

  • Reaksi ringan

Sebagian besar waktu, gejala sengatan lebah kecil termasuk:

  1. Nyeri terbakar yang tajam dan instan di lokasi sengatan
  2. Munculnya bilur merah di area sengatan
  3. Sedikit bengkak di sekitar area sengatan

Pada kebanyakan orang, pembengkakan dan rasa sakit akan hilang dalam beberapa jam.

  • Reaksi sedang

Beberapa orang yang disengat oleh lebah atau serangga lain memiliki reaksi yang sedikit lebih kuat, dengan tanda dan gejala seperti:

  1. Kemerahan ekstrem
  2. Pembengkakan di lokasi sengatan yang secara bertahap membesar selama satu atau dua hari berikutnya

Reaksi sedang cenderung hilang dalam lima hingga 10 hari. Memiliki reaksi sedang bukan berarti Anda akan memiliki reaksi alergi yang parah saat berikutnya Anda tersengat.  Tetapi beberapa orang mengembangkan reaksi moderat serupa setiap kali disengat.  Jika hal ini terjadi pada Anda, bicarakan dengan dokter Anda tentang perawatan dan pencegahan, terutama jika reaksinya menjadi lebih parah setiap kali.

  • Reaksi alergi berat

Reaksi alergi yang parah (anafilaksis) terhadap sengatan lebah berpotensi mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan darurat. Sebagian kecil orang yang tersengat lebah atau serangga lainnya dengan cepat mengalami anafilaksis. Tanda dan gejala anafilaksis meliputi:

  1. Reaksi kulit, termasuk gatal-gatal dan gatal-gatal dan kulit memerah atau pucat
  2. Sulit bernafas
  3. Pembengkakan tenggorokan dan lidah
  4. Denyut nadi yang cepat dan lemah
  5. Mual, muntah atau diare
  6. Pusing atau pingsan
  7. Hilang kesadaran

Orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap sengatan lebah memiliki peluang 25% hingga 65% anafilaksis pada saat mereka tersengat. Bicaralah dengan dokter Anda atau spesialis alergi tentang langkah-langkah pencegahan seperti imunoterapi atau suntikan alergi untuk menghindari reaksi serupa jika Anda tersengat lagi.

Cara terbaik untuk menghindari komplikasi akibat sengatan lebah adalah dengan menghindari sengatan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diingat jika Anda tahu Anda atau anak Anda akan berada di luar dan di sekitar lebah atau tawon.

  • Hindari memakai warna-warna cerah, parfum beraroma, atau semprotan rambut.
  • Perlu diingat bahwa lebah dan tawon adalah makhluk sosial. Mereka hanya menyengat manusia untuk melindungi sarang mereka. Sehingga jika Anda tidak mengganggunya, mereka tidak akan mengganggu Anda.
  • Lebah dan tawon adalah binatang yang sangat lambat, kebanyakan orang bisa menghindarinya hanya dengan berjalan cepat.

Sengatan lebah adalah gangguan luar biasa.  Dalam kebanyakan kasus, sengatan lebah hanya mengganggu, dan perawatan di rumah adalah hal yang diperlukan untuk meringankan rasa sakit.  Tetapi jika Anda alergi sengatan lebah atau tersengat berkali-kali, Anda mungkin memiliki reaksi yang lebih serius yang memerlukan perawatan darurat.

5 Tanda Kanker Pankreas yang Perlu Diwaspadai

Kanker pankreas, penyakit yang tidak mudah dideteksi. Tapi, kadang terdapat tanda-tanda yang dapat menjadi peringatan sejak dini. Bila diketahui lebih awal, penyakit ini dapat ditangani. Karena tanda-tanda tersebut sering kali samar, maka kita perlu benar-benar waspada dan memerhatikan kondisi tubuh dengan cermat.

Pankreas memegang dua peran penting, yaitu memproduksi enzim yang membantu proses pencernaan serta produksi hormon. Insulin dan glukagon merupakan dua hormon yang diproduksi oleh pankreas.

Enzim pencernaan tersebut diproduksi oleh sel eksokrin pankreas, di sinilah 95% kasus kanker pankreas bermula. Sebagai jenis kanker dengan angka kejadian 3% dari seluruh kejadian kanker, risiko terjadinya kanker pankreas meningkat seiring bertambahnya usia.

Kasusnya yang sering kali ditemukan pada stadium lanjut membuat kanker pankreas menjadi 7% dari penyebab kematian akibat kanker. Walau tidak mudah, mengenali tanda-tanda awal penyakit ini memberi peluang lebih besar agar kanker pankreas dapat diketahui lebih dini.

Mengenal tanda-tanda kanker pankreas

Di bawah ini, beberapa kondisi yang layak diwaspadai. Tidak semua kondisi tersebut berakhir dengan kanker pankreas, namun Anda atau keluarga perlu waspada jika mengalaminya.

  1. Penyakit kuning

Kanker pankreas biasanya terjadi di pangkal pankreas, dekat dengan saluran empedu. Pada banyak kasus, tumor atau kanker tersebut menyumbat pelepasan empedu ke usus. Akibatnya bahan-bahan empedu menumpuk di dalam darah.

Salah satu yang paling jelas terlihat, kulit dan bagian putih mata berubah menjadi kekuningan. Warna kuning sendiri berasal dari bilirubin, zat kuning kecoklatan yang diproduksi oleh hati.

  • Kotoran berwarna pucat

Telah disebutkan sebelumnya, kanker dapat menyumbat penyaluran cairan empedu yang sudah bercampur dengan bilirubin ke usus. Nantinya, campuran empedu dan bilirubin akan bercampur dengan urin dan kotoran, lalu dikeluarkan dari tubuh.

Keberadaan bilirubin yang membuat kotoran berwarna kuning kecoklatan. Sehingga, dalam kondisi ini, mungkin akan ditemukan kotoran yang cenderung berwarna pucat atau abu-abu.

  • Nyeri perut

Nyeri pada perut kerap dirasakan oleh penderita kanker pankreas. Di dalam tubuh, jaringan tumor atau kanker yang berawal di pankreas membesar dan menekan organ lain, saat itulah penderita merasakan nyeri di perutnya.

  • Kehilangan berat badan

Seseorang dengan kanker pankreas dapat kehilangan nafsu makan. Selanjutnya, penderita mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja.

  • Mual dan muntah

Jaringan kanker yang terus berkembang dan membesar dapat menekan ujung perut dan menyumbatnya. Kondisi ini membuat makanan sulit lewat. Akibatnya, muncul rasa mual dan ingin muntah, serta nyeri setiap kali selesai makan.

Apabila ada di antara Anda yang mengalami tanda-tanda di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter dan menimbang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

Upaya pencegahan

Beberapa faktor pemicu kanker pankreas memang di luar kendali kita, seperti usia dan genetik. Namun, tetap ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit ini.

Berhenti merokok misalnya, merupakan langkah yang sangat penting untuk menurunkan risiko kanker pankreas. 20%-30% kasus kanker pankreas diduga terjadi akibat rokok.

Menjaga berat badan juga dapat membantu menurunkan risiko terkena kanker pankreas. Sekitar 20% orang yang kelebihan berat badan lebih berpotensi untuk mengalami gangguan medis yang satu ini.

Di samping itu, waspadalah pada paparan zat-zat kimia. Terus-menerus terpapar zat kimia tertentu meningkatkan risiko terkena kanker pankreas. Misal, zat kimia yang digunakan di dry cleaning atau pembuatan logam.

Kenali Jenis-Jenis Radang Otot

Sakit di bagian otot atau myalgia pasti pernah dialami oleh hampir semua orang. Biasanya penyebab dari sakit otot ini mudah dikenali, seperti akibat aktivitas fisik berat yang tidak terbiasa dilakukan, atau akibat cedera otot. Sakit pada otot juga bisa disebabkan oleh penyakit, misalnya demam berdarah atau penyakit autoimun yang menimbulkan radang otot atau myositis. Selain sakit pada otot, gejala radang otot lainnya adalah otot menjadi lemah, mudah tersandung, mudah jatuh, sulit kembali bangun saat terjatuh, sulit bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri, merasa kelelahan luar biasa setelah berjalan atau pun berdiri.

Radang otot disebut juga sebagai penyakit autoimun, kondisi ini muncul karena sistem kekebalan tubuh mengalami masalah dan malah menyerang sel-sel otot yang sehat. Ada beberapa jenis radang otot yang dapat mempengaruhi otot:

  1. Polimiositis

Jenis ini merupakan radang di berbagai otot tubuh. Paling sering terjadi radang otot di bahu, pinggul, paha dan penderitanya lebih banyak wanita. Gejala umumnya dapat muncul pada orang berusia antara 30 sampai 60 tahun.

  • Dermatomyositis

Selain radang otot, myositis jenis ini juga dapat menimbulkan ruam-ruam pada anak. Jenis ini juga lebih banyak diderita oleh wanita serta bisa juga terjadi pada anak-anak.

  • Miositis reaktif pasca infeksi

Radang otot ini muncul setelah infeksi virus. Jenis ini biasanya cenderung ringan saja dan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan tertentu.

  • Myositis inklusi tubuh

Jenis yang menyebabkan kelemahan pada otot kedua paha, otot lengan bawah serta oto tungkai sehingga penderitanya sulit untuk mengangkat bagian depan kaki dan jika berjalan tampak seperti menyeret kakinya, radang otot jenis ini biasanya banyak dialami oleh laki-laki berusia 50 tahun ke atas.

Selain otot pada anggota gerak, peradangan juga bisa terjadi pada otot tenggorokan dan otot dada sehingga menyebabkan sulit untuk menelan serta sesak nafas. Kelemahan otot yang terkena radang ini bisa membaik dan bisa kambuh kembali, akan tetapi tanpa pengobatan kondisinya akan cenderung memburuk.

Waspada Kencing Nanah yang Tidak Muncul dengan Gejala

Selain kencing batu, ternyata ada juga penyakit kencing nanah. Istilah ini merupakan penyebutan awam dari penyakit gonorrhea. Bakteri Neisseria gonorrhoeae menyebabkan infeksi menular seksual pada manusia. infeksi bakteri ini ditularkan melalui hubungan seksual, baik secara vaginal, anal maupun oral.

Ketika menyerang pria, sebagian besar dari mereka tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Hal tersebut juga berlaku jika infeksi bakteri ini menyerang wanita.

Oleh karena kencing nanah tidak bergejala, maka cara terbaik untuk mendeteksi apakah seseorang mengidap penyakit kencing nanah, yaitu dengan secara rutin melakukan tes infeksi menular seksual yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Bagi seseorang yang melakukan hubungan seksual lebih dari satu pasangan maupun pernah menderita infeksi menular seksual lain, maka pemeriksaan diri secara rutin merupakan kewajiban. Tes ini dilakukan dengan menggunakan sampel urin.

Bagi pria yang mengidap kencing nanah, biasanya gejala akan muncul sejak hari ketiga atau kelima setelah terinfeksi. Namun, gejala ini juga dapat muncul sebulan kemudian. Sementara itu, bagi wanita yang mengidap infeksi bakteri gonorrhea ini, gejala dapat muncul dalam kurun 10 hari setelah tertular.

Gejala yang dapat muncul pada pria, antara lain keluarnya cairan berwarna putih kekuningan, seperti warna nanah dari penis yang disertai dengan rasa nyeri atau sensasi terbakar ketika buang air kecil. Selain itu, penderita juga akan mengalami dorongan yang lebih kuat untuk selalu membuang air kecil. Akan muncul pula pembengkakan pada testis yang disertai rasa sakit.

Bagi wanita, gejalanya akan serupa dengan pria, yaitu keluarnya cairan berwarna putih kekuningan dari vagina l yang terkadang disertai darah, rasa sakit dan nyeri ketika buang air kecil. Khusus untuk wanita, penyakit ini dapat menyebar hingga ke tuba falopi yang mengakibatkan munculnya rasa sakit pada perut bawah dan punggung bawah.

Secara garis besar setidaknya 90% infeksi kencing nanah tidak menimbulkan gejala signifikan, namun biasanya penderita akan merasa gatal-gatal di anus dan rasa sakit ketika buang air besar.

Kenali Gejala Hipotiroidisme pada Bayi

Beberapa negara maju telah melakukan skrining hipotiroid pada bayi sesaat setelah bayi dilahirkan. Namun, di Indonesia, proses skrining ini dilakukan hanya jika ditemukan gejala dari hipotiroidisme. Apa itu sebenarnya hipotiroidisme dan apa saja gejala yang dapat muncul pada bayi?

Hipotiroidisme adalah kondisi ketika hormon tiroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid diproduksi dalam jumlah yang rendah. Hormon ini berperan dalam mengoptimalkan metabolisme dan perkembangan otak bayi hingga ia berusia 2-3 tahun.

Proses skrining hipotiroidisme pada bayi penting untuk dilakukan. Pasalnya, gejala hipotiroid pada bayi terkadang tidak memunculkan tanda-tanda yang spesifik. Gejala hipotiroid baru akan muncul sebulan setelah bayi dilahirkan. Ada pun gejala-gejala hipotiroid yang mungkin dapat dialami oleh bayi, antara lain:

  • Berkurangnya berat badan.
  • Mengalami kondisi stunting atau gangguan pertumbuhan.
  • Mengalami pertumbuhan tulang yang tidak normal.
  • Otot-otot terasa lemah.
  • Kondisi pusar yang menonjol atau dalam bahasa medis disebut dengan hernia umbilikus.
  • Bayi terlihat lelah dan lunglai.
  • Bayi sering tertidur.
  • Mengalami kesulitan ketika akan menyusu.
  • Bayi menangis, namun lemah atau jarang sekali menangis.
  • Adanya suara atau rintihan serak dan parau.
  • Kulit berwarna pucat dan berubah menjadi kekuningan (jaundice), terasa dingin, dan kering.
  • Terdapat pembengkakan pada daerah leher akibat dari pembesaran kelenjar tiroid.
  • Ukuran lidah terlihat lebih besar dibanding dengan ukuran normal pada umumnya.
  • Mengalami konstipasi.
  • Mengalami myxedema atau kondisi perubahan kulit pada penderita hipotiroid yang disertai dengan pembengkakan dan penebalan kulit.

Gejala yang umumnya terjadi dan sering kali mengkhawatirkan sang ibu adalah ketika bayi lebih sering tertidur dan enggan untuk menyusu. Jika Anda menemui gejala-gejala tersebut pada bayi Anda, maka segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter spesialis anak agar dapat diperiksa dan ditangani secara cepat dan tepat.

Ada pun risiko seorang bayi menderita hipotiroid, antara lain akibat turunan dari ibu yang memiliki penyakit serupa, namun sudah tidak terkontrol. Alasan lain mengapa bayi dapat mengalami hipotiroid, yaitu akibat dari pembentukan kelenjar tiroid yang tidak sempurna atau posisi yang tidak sesuai.

5 Ciri-Ciri Mata Katarak yang Harus Anda Waspadai

Salah satu penyakit mata yang kerap dialami adalah katarak. Jenis penyakit mata yang satu ini tergolong cukup berbahaya karena dapat berakhir pada kebutaan. Walaupun begitu, kebutaan yang disebabkan oleh katarak bersifat reversibel atau dapat kembali ke kondisi normal setelah katarak ditangani. Seperti apa katarak itu sebenarnya dan apa saja ciri-ciri mata katarak yang perlu Anda waspadai?

Katarak adalah penyakit mata yang disebabkan oleh proses pengeruhan pada lensa mata. Kondisi ini terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang maupun karena faktor penyakit bawaan lain, seperti diabetes atau adanya trauma pada bola mata.

Pengeruhan lensa pada mata dapat mengganggu cahaya masuk mencapai bagian belakang dari bola mata, sehingga proses melihat dapat terhambat. Beberapa ciri-ciri mata katarak yang telah diketahui, antara lain:

  • Terganggunya penglihatan menjadi lebih berkabut atau berawan

Ketika proses pengeruhan pada lensa mata terjadi, Anda akan mengalami gangguan penglihatan, seperti penglihatan yang akan semakin kabur. Anda akan merasa bahwa proses penglihatan ditutupi kabut atau berawan, serupa dengan melihat suatu objek dari balik kaca yang tebal dan buram.

  • Mata lebih sensitif terhadap cahaya

Jika Anda merasa bahwa mata Anda lebih sensitif terhadap cahaya, maka hal tersebut dapat menjadi salah satu ciri mata katarak. Anda akan lebih mudah merasa silau ketika memalingkan pandangan searah dengan sumber cahaya. Sumber cahaya di sini bukan selalu berarti sinar matahari, namun juga lampu sorot pada kendaraan.

  • Penglihatan menjadi ganda atau berlipat

Seseorang yang mengalami katarak, akan mengalami penglihatan ganda atau dobel. Kondisi ini disebabkan oleh keruhnya lensa mata pada penderita katarak yang menyebabkan cahaya tersebar ke berbagai arah ketika akan masuk ke mata, sehingga cahaya tidak fokus pada satu titik.

  • Melihat halo atau lingkaran cahaya

Proses berpencarnya cahaya yang masuk ke mata tadi, dapat menyebabkan penderita katarak melihat halo atau lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya. Lingkaran cahaya tersebut serupa dengan bentuk cincin dengan memiliki berbagai warna dan berada di sekitar sumber cahaya.

  • Berubahnya pandangan menjadi kekuningan

Jika kondisi katarak menjadi lebih parah, maka penglihatan Anda berisiko akan berubah warna menjadi kekuningan. Kondisi ini disebabkan oleh gumpalan protein yang mengeruh pada lensa mata, sehingga ia berubah warna menjadi kuning atau kecokelatan. Dengan kondisi seperti ini, penderita katarak akan sulit membedakan warna.