Dua Cerita Menarik di Balik Transplantasi Tangan

Tim dokter spesialis bedah diperlukan dalam operasi transplantasi tangan

Kehilangan salah satu atau kedua tangan mungkin akan membuat seseorang kehilangan sebagian kehidupannya. Pasalnya, tangan adalah organ tubuh yang memegang banyak peranan di dalam kehidupan manusia. Namun, berkat perkembangan, mimpi buruk tersebut bisa jadi dihindari lewat transplantasi tangan.

Konon katanya transplantasi tangan dilakukan di Ekuador pada medio 1960-an, setelah percobaan yang akhirnya gagal tersebut, sejak 1990, dunia medis mulai menjadikan tindakan ini sebagai sesuatu yang serius. Pada 1998 akhirnya terjadilah transplantasi tangan kembali setelah yang tangan pertama pada 1964 silam tersebut.

Transplantasi tangan tergolong tindakan yang amat jarang dan langka. Hingga saat ini diperkirakan baru terlaksana kurang dari 100 kali. Namun, di dalam angka tersebut ada berbagai cerita unik. Dua di antaranya akan disajikan kepada Anda:

  • Transplantasi Tangan Lintas Gender Pertama

Cerita unik pertama datang dari India. Seorang bernama Shreya Siddanagowder (18), menjadi penerima cangkok tangan lintas gender pertama. Siddanagowder mendapat donor tangan dari seorang pria berkulit gelap yang saat itu berusia 21 tahun.

Transplantasi tangan yang dijalani Siddanagowder berlangsung selama 13 jam. Tak kurang dari 36 tenaga medis mencurahkan segala daya dan upaya untuk “menghadirkan tangan” untuk Siddanagowder. Tim medis tersebut terdiri dari 20 ahli bedah dan 16 ahli anestesi. 

Satu tahun usai menjalani operasi transplantasi tangan, kondisi Siddanagowder terus membaik. Terapi fisik menolong remaja ini meningkatkan kontrol motorik pada lengan dan tangan. Hasilnya, tangan donor tersebut menjadi lebih ramping daripada yang terjadi pada saat transplantasi.

Hal unik dan tak disangka-sangka lain pun terjadi. Tangan donor tersebut mengalami perubahan warna kulit seolah menyesuaikan dengan warna kulit Siddanagowder. Tangan donor yang awalnya berwarna lebih gelap itu secara perlahan menjadi lebih terang, sehingga tak terlihat perbedaan mencolok dengan warna kulit Siddanagowder.

Menurut kepala dermatologi di Rumah Sakit King Edward Memorial di Mumbai bernama Dr. Uday Khopkar, keajaiban perubahan warna kulit itu terjadi karena tubuh penerima donor memproduksi melanin lebih sedikit daripada donornya. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi penyebabnya.

  • Perjuangan Si Kecil Zion untuk Mendapatkan Tangan Kembali 

Nama lengkanya adalah Zion Harvey. Zion telah berbahagia lantaran bisa kembali menyalurkan hobinya, bermain bisbol. Setelah transplantasi tangan yang dilakukannya berhasil, Zion juga telah dapat beraktivitas normal seperti anak-anak lainnya. Zion adalah bocah pertama di dunia yang sukses menjalani transplantasi tangan ganda.

Kata dokter yang menanganinya, anak lelaki yang saat menjalani operasi berusia 10 tahun tersebut bisa menulis, memberi makan, dan berpakaian sendiri. Transplantasi tangan bocah Zion baru benar-benar dinyatakan berhasil setelah 18 bulan. Meski terus melakukan penyesuaian, tetapi kondisi bocah tersebut terus membaik lantaran dahulu dia sering menjalani terapi sehari-hari untuk meningkatkan fungsi tangannya. 

Jalan panjang yang harus dilakoni Zion tersebut bermula saat tangan dan kaki bocah itu diamputasi pada usia dua tahun akibat infeksi sepsis. Infeksi itu juga memaksa Zion melakukan transplantasi ginjal. Tangan donor untuk Harvey mulai tersedia pada Juli 2015 dari anak yang telah meninggal. Dalam beberapa hari setelah operasi, ia bisa menggerakkan jari lalu menggunakan ligamen dari anggota tubuhnya yang tersisa.

Dalam proses penyembuhan, dokter yang menanganinya menyarankan untuk mengonsumsi obat untuk menekan reaksi penolakan tubuh pada ginjal barunya. Obat-obat itulah yang pada kemudian hari menjadi faktor kunci dalam operasi transplantasi tangan yang berlangsung selama lebih dari 10 jam tersebut. Secara medis, obat yang bernama imunosupresif itu memang harus dikonsumsi terus-menerus untuk mencegah tubuh pasien menolak organ yang ditransplantasi. 

Kendati demikian, jalan yang ditempuh Zion tak selalu mulus. Sejauh ini bocah yang kini telah beranjak remaja itu sudah mengalami delapan reaksi penolakan atas implantasi tangan yang dijalaninya, termasuk episode serius selama bulan keempat dan ketujuh dari transplantasi. Hingga kini, Harvey harus terus mengkonsumsi empat obat imunosupresi dan steroid.

***

Dua cerita unik mengenai transplantasi tangan di atas bisa ditarik satu kesimpulan bahwa tindak medis itu bisa bekerja dengan baik selama tubuh berhasil menerima “benda asing” tersebut. Kedua tokoh cerita di atas berhasil berdamai dengan sel, jaringan, dan segala sesuatu yang berada di tangan barunya tersebut sehingga kini keduanya mampu menjalani hidup layaknya teman-teman sebayanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *