Obat Glauseta untuk Mengatasi Glaukoma

Glauseta merupakan obat yang mampu mengatasi glaukoma. Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang paling sering menyerang orang tua. Penyakit ini mampu merusak saraf optik seseorang yang disebabkan oleh tekanan tinggi tidak normal pada bagian mata.

Obat Glauseta untuk Atasi Glaukoma

Obat Glauseta mampu membantu menurunkan tekanan pada mata atau yang lebih dikenal sebagai glaukoma. Obat ini mampu mengatasi glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sekunder. Bahkan juga digunakan sebelum melakukan operasi pada glaukoma sudut tertutup.

Apa Itu Glaukoma?

Glaukoma merupakan istilah dari sekelompok gangguan mata yang dapat merusak saraf optik akibat penumpukan cairan. Kebanyakan kasus glaukoma, cairan tersebut menumpuk pada bagian depan mata yang dapat memberikan tekanan ekstra pada mata. Hal tersebut secara bertahap akan merusak saraf optik hingga menyebabkan kehilangan penglihatan.

Jika tidak dilakukan pengobatan maka penderitanya bisa mengalami kebutaan permanen. Glaukoma sering menyerang orang dewasa yang lebih tua. Karena itu, penyakit mata ini menjadi penyebab utama kebutaan bagi orang tua berusia di atas 60 tahun.

Glaukoma tidak memiliki tanda peringatan. Bahkan penderitanya bisa tidak melihat perubahan pada penglihatannya hingga kondisi glaukoma yang diidapnya masuk ke stadium lanjut. Untuk itu, penting melakukan pemeriksaan secara teratur agar glaukoma dapat didiagnosis lebih awal sehingga bisa mendapatkan pengobatan dengan cepat salah satunya dengan Glautasea. Hal ini juga mampu memperlambat bahkan mencegah kebutaan.

Penyebab Glaukoma

Hingga saat ini tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan tekanan pada mata. Namun ada beberapa faktor yang bisa memengaruhinya. Salah satunya karena tersumbatnya saluran drainase oleh endapan mikroskopis. Karena sumbatan tersebut, cairan tersebut tidak bisa menghilang sehingga menimbulkan tekanan pada mata. Meningkatnya tekanan pada mata dapat merusak saraf optik yang menyebabkan glaukoma.

Pada orang normal, cairan akan keluar melalui saluran drainase yang berada di antara iris dan kornea. Cairan tersebut berperan untuk memberikan nutrisi pada mata.

Ada beberapa faktor yang juga dipercaya dapat menyebabkan glaukoma yaitu:

  • Obat tetes mata dilatasi
  • Obat-obatan, seperti kortikosteroid
  • Buruknya atau berkurangnya aliran darah ke saraf optik
  • Tekanan darah tinggi

Faktor Risiko

Ada beberapa faktor yang harus Anda waspadai karena bisa menjadi penyebab munculnya glaukoma, yaitu:

  • Memiliki tekanan intraokular
  • Berusia di atas 60
  • Memiliki riwayat keluarga glaukoma
  • Menderita penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan anemia sel sabit
  • Memiliki kornea yang tipis di tengah
  • Menderita rabun jauh atau rabun dekat
  • Pernah menderita cedera pada mata
  • Pernah menjalani operasi mata
  • Mengonsumsi obat kortikosteroid, terutama obat tetes mata dalam waktu lama

Gejala

Salah satu jenis glaukoma yang paling umum adalah glaukoma sudut terbuka primer. Glaukoma tersebut tidak memiliki gejala kecuali hilangnya penglihatan secara bertahap. Karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin setiap tahun.

Sedangkan glaukoma jenis lainnya yaitu sudut tertutup memiliki gejala yang cukup parah, dan harus Anda waspadai, yaitu:

  • Sakit pada mata atau rasa tekanan.
  • Sakit kepala.
  • Saat melihat lampu terlihat lingkaran berwarna pelangi
  • Penglihatan kabur secara tiba-tiba
  • Mual dan muntah .
  • Mata merah.
  • Gangguan penglihatan secara mendadak

Pengobatan Glaukoma

Tujuan pengobatan glaukoma adalah untuk mencegah atau menghentikan kehilangan penglihatan. Biasanya dokter akan meresepkan obat tetes mata atau obat oral seperti Glauseta untuk mengurangi tekanan pada mata. Dokter mungkin juga dapat merekomendasikan pembedahan jika terjadi peningkatan tekanan pada mata guna membuka saluran drainase.

Mengenal Faktor Risiko dan Penyebab Alzheimer pada Lansia

Seiring bertambahnya usia, Anda semakin rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Salah satu penyakit yang bisa menyerang lansia adalah Alzheimer. Faktor usia menjadi salah satu kemungkinan penyebab Alzheimer yang umumnya terjadi. 

Alzheimer berkaitan erat dengan demensia. Hingga saat ini, belum bisa dipastikan dengan jelas apa yang membuat seseorang mengalami Alzheimer. Namun, kondisi Alzheimer biasanya akan berkembang dan menjadi penyebab utama gejala demensia. 

Apa penyebab Alzheimer pada lansia?

Otak manusia terbuat dari miliaran sel-sel saraf. Seluruh sel itu saling berkomunikasi untuk melakukan berbagai fungsi otak, seperti berpikir, mengingat, berbicara, dan lain sebagainya. 

Pada dasarnya, Alzheimer berkembang karena adanya perubahan spesifik pada otak. Perubahan ini bisa terjadi akibat penumpukan protein pada otak secara tidak normal, membuat terbentuknya plak pada otak yang akan menghambat fungsi sel-sel otak.

Plak pada otak akan merusak kemampuan sel-sel saraf otak untuk saling berkomunikasi. Secara perlahan, kerusakan pun akan membuat sel-sel tersebut menjadi mati dan tak berfungsi lagi. 

Tidak diketahui dengan pasti apa yang memicu penyebab Alzheimer ini. Akan tetapi, ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih mungkin menderita Alzheimer: 

  • Faktor usia

Alzheimer biasanya berkembang di usia tua. Semakin tua usia Anda, maka Anda semakin rentan untuk menderita kondisi ini. Menurut penelitian, kondisi ini semakin mudah berkembang pada lansia yang sudah melewati usia 85 tahun. 

  • Faktor genetik

Dalam beberapa kasus, Alzheimer juga bisa diturunkan secara genetik. Jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita kondisi tersebut, sebaiknya lakukan upaya antisipasi dan pencegahan sejak dini bagi diri Anda sendiri.

  • Obesitas

Menurut penelitian, orang-orang yang obesitas juga lebih mudah terserang berbagai penyakit, termasuk Alzheimer. Jadi, pastikan Anda menjaga berat badan tetap sehat agar terhindar dari Alzheimer.

  • Pengaruh gaya hidup

Gaya hidup yang kurang melibatkan aktivitas sosial bisa meningkatkan risiko penyebab Alzheimer. Agar terhindar dari penyakit ini, sebaiknya perbaiki gaya hidup menjadi lebih sehat dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin, terlibat dalam aktivitas sosial, dan tidur yang cukup. 

Bagaimana menghadapi anggota keluarga yang Alzheimer?

Mungkin saja, saat ini Anda masih dalam kondisi sehat, namun diharuskan untuk berhadapan dengan anggota keluarga atau teman yang menderita Alzheimer. Lantas, bagaimana cara tepat menghadapi hal tersebut? 

Sebagai orang yang sehat, Anda harus bisa bijak dalam memutuskan sikap menghadapi penderita Alzheimer. Berikut ini hal-hal yang bisa dilakukan: 

  • Ekspektasikan perubahan

Cari tahu apa kira-kira faktor penyebab Alzheimer dan seperti apa gejalanya. Sejak awal, Anda perlu memiliki ekspektasi bahwa keluarga yang menderita Alzheimer akan mengalami perubahan, bahkan menjadi seperti orang yang mungkin tidak lagi Anda kenal.

Jangan frustasi saat hal ini terjadi. Ketika berbicara, bicaralah sejelas mungkin untuk meminimalisir kesalahpahaman. 

  • Jaga lingkungan tetap aman

Penderita Alzheimer tidak bisa membedakan antara hal yang membahayakan dan tidak. Sebagai anggota keluarga, sebaiknya pastikan agar lingkungan di sekitar Anda tetap aman. 

Simpan barang-barang berharga di tempat yang sama dan letakkan obat-obatan di lokasi yang tidak mudah dijangkau penderita. Bila perlu, pasang sensor alarm pada pintu dan jendela agar Anda mendapatkan tanda peringatan jika ada sesuatu yang terjadi pada keluarga yang mengidap Alzheimer.

Jika Anda tidak tahu cara merawat penderita Alzheimer dengan tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Anda. Ingat juga untuk mewaspadai faktor risiko dan penyebab Alzheimer sejak dini terhadap diri Anda sendiri.