6 Cara Mengatasi Benjolan di Vagina

Siapa yang tidak khawatir dan panik ketika menemukan benjolan yang terletak di sekitar alat kemalin wanita. Namun sebelumnya kita harus memahami terlebih dahulu bahwa benjolan di vagina merupakan hal yang cukup normal. Sebagian besar wanita pun pernah mengalami hal tersebut.

Oleh karenanya, kita harus mengenali sebab munculnya benjolan yang berada di sekitar vagina, seperti bisul, jerawat, kutil , kista, kanker dan sebagainya, Tentunya cara mengatasi atau menghilangkan benjolan tersebut harus disesuaikan dengan masing-masing penyebabnya. 

Sebelumnya, kita telah mengenal penyebab-penyebab timbulnya benjolan di vagina, seperti bisul, jerawat, kutil , kista maupun kanker. Tentunya cara mengatasi atau menghilangkan benjolan tersebut harus disesuaikan dengan masing-masing penyebabnya. 

Apabila benjolan tersebut tidak menggangu dan tidak sakit, biasanya benjolan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Namun apabila benjolan tersebut semakin membesar dan terasa nyeri, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk penanganan medis lebih lanjut. 

Cara mengatasi benjolan di vagina

Berikut cara-cara mengatasi dan menghilangkan benjolan di vagina sesuai dengan penyebabnya, antara lain

1. Berendam di Air Hangat

Berendam di air hangat dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi benjolan di vagina. Suhu air yang hangat dipercaya dapat membuat kista mengecil dan membuat cairan di dalam benjolan tersebut keluar dengan sendirinya. Untuk hasilnya maksimal, berendam di air hangat sebanyak dua hingga tiga kali sehari.

2. Antibiotik

Apabila benjolan yang terletak di sekitar alat kelamin perempuan mengalami infeksi akibat bakteri, biasanya dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasinya. Antibiotik adalah obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik merupakan jenis obat yang harus dikonsumsi sesuai dengan dosis yang telah diresepkan dokter.

3. Antivirus

Ketika benjolan di vagina disebabkan karena herpes simpleks, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter secepatnya. Biasanya dokter akan memberikan obat-obatan antivirus untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan gejala lainnya. Selain itu, antivirus tersebut dapat membantu mengurangi kadar kesakitan akibat herpes simpleks.

4. Kauterisasi atau Elektrokauter

Kauterisasi atau elektrokauter merupakan salah satu prosedur yang sering dilakukan untuk membantu mengatasi ataupun menghilangkan benjolan di area kelamin wanita yang disebabkan oleh kutil kelamin. Penanganan medis ini dilakukan menggunakan anestesi lokal, agar tidak terasa nyeri saat proses pengangkatan kutil berlangsung.

5. Pembedahan Drainase

Apabila benjolan di vagina mengalami infeksi dan semakin besar, biasanyanya akan dilakukan pembedahan drainase. Pembedahan ini bertujuan untuk mengeluarkan cairan dalam benjolan tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk mengatasi rasa sakit dan ukuran benjolan yang sudah mengganggu si penderita.

Pembedahan drainase dilakukan dengan menyayat permukaan benjolan dan menempatkan selang berukuran kecil untuk membantu mengeluarkan cairan di dalamnya. Setelah seluruh cairan keluar dari dalam kista, sayatan tersebut akan ditutup dengan cara ‘menambalnya’.

6. Marsupialisasi

Marsupialisasi merupakan sebuah prosedur pembedahan yang biasanya dilakukan apabila benjolan di area vagina mengalami infeksi dan ukurannya yang sudah mengganggu. Prosedur ini dilakukan apabila pembedahan drainase tidak mampu lagi mengatasi benjolan tersebut. 

Marsupialisasi dilakukan dengan mengiris permukan benjolan atau kista dan menempatkan selang atau kateter untuk mengeluarkan cairan di dalam benjolan tersebut. Selanjutnya, dokter akan menjahit bagian ujung kulit di sekitar benjolan agar tetap terbuka sehingga dapat mencegah munculnya kista kembali. 

Selain berbagai macam pengobatan di atas, usahakan untuk menghindari pakain dalam yang terlalu ketat. Hal tersebut akan berpotensi dapat merobek vulva (bagian luar vagina). Gunakannya celana dalam yang terbuat dari bahan katun yang menyerap keringat untuk menjaga sirkulasi udara sehingga vagina tetap kering dan sejuk.

Cara Menggunakan dan Merawat Pembalut Kain

Menstruasi atau datang bulan merupakan proses keluarnya darah dari vagina. Hal ini merupakan siklus alami yang terjadi pada tubuh wanita. Menstruasi terjadi karena organ reproduksi bersiap untuk kehamilan. Jika sel telur tidak dibuahi atau kehamilan tidak terjadi, maka dinding rahim (endometrium) akan luruh dan keluar bersama darah melalui vagina. 

Normalnya, menstruasi terjadi satu kali dalam sebulan. Sebelum siklus menstruasi datang, biasanya wanita menyiapkan pembalut. Tujuannya untuk menampung darah saat siklus menstruasi datang. 

Ada beberapa jenis pembalut yang biasa digunakan oleh wanita, yaitu pembalut yang biasa dijual di pasaran (sanitary pads), pembalut herbal, dan pembalut kain (cloth pads atau reusable pads). Penggunaan sanitary pads atau pembalut biasa merupakan hal yang wajar mengingat harganya yang ekonomis dan praktis. 

Namun, ternyata tidak semua sanitary pads baik untuk kesehatan organ reproduksi. Pembalut wanita terbuat dari polimer sebagai lembar penyerap dan plastik untuk perekat. Lembar polimer dapat menyerap cairan secara efektif, namun tidak dapat menekan aktivitas bakteri. 

Bahkan beberapa pembalut mengandung bahan kimia pemutih dan wewangian yang dapat meningkatkan risiko kanker. Sementara itu, plastik pada lapisan bawah pembalut dapat mencemari lingkungan. Hal ini yang membuat beberapa produsen menciptakan pembalut kain (cloth pads) sebagai alternatif yang ramah lingkungan.

Efektivitas Pembalut Kain

Saat ini, penggunaan cloth pads atau pembalut kain semakin meningkat. Hal ini karena dari segi kesehatan, pembalut kain lebih unggul dibandingkan pembalut biasa yang dijual di pasaran. Ada banyak kelebihan yang bisa Anda rasakan ketika menggunakan pembalut kain ini, seperti:

  • Lebih nyaman digunakan
  • Tidak mudah bocor
  • Menyerap cairan lebih banyak
  • Lebih hemat karena mudah dicuci
  • Tidak mengandung bahan kimia
  • Tidak menimbulkan iritasi pada area sensitif
  • Lebih ramah lingkungan.

Apakah Pembalut Kain Tahan Lama?

Pembalut kain dapat bertahan lama 3-5 tahun, bahkan lebih lama, tergantung pada perawatannya. Hal yang perlu Anda perhatikan adalah untuk mencuci, mengeringkan, dan menyimpan pembalut kain dengan cara yang benar. Dengan begitu, Anda dapat menghemat biaya bulanan, mengurangi sampah plastik, dan menghindari iritasi kulit.

Cara Menggunakan Pembalut Kain

Menggunakan kain pembalut juga sangat mudah dan mirip seperti sanitary pads. Di belakang sisi pembalut kain terdapat perekat di bagian ujung sayap pembalut yang terbuat dari kancing. 

Caranya cukup mudah, Anda hanya perlu menempelkan pembalut di pakaian dalam Anda. Lipat bagian sayap hingga kedua sisi sayap saling bertemu, lalu pasang kancingnya. Pastikan kancing pembalut terpasang dengan baik dan berbunyi “klik”. Setelah itu, gunakan pakaian dalam yang sudah dipasang pembalut.

Meskipun pembalut kain tidak mudah bocor, Anda tetap perlu mengganti pembalut setiap 4-6 jam. Sebaiknya Anda selalu mengecek keadaan pembalut apakah sudah penuh atau tidak. Jika penuh, segeralah mengganti pembalut Anda dengan yang baru. Setelah itu, segera cuci pembalut bekas Anda agar tidak meninggalkan noda.

Cara Merawat Pembalut Kain

Sama seperti pembalut biasa, pembalut kain memiliki banyak ukuran dan motif. Pastikan jika perawatan pembalut kain Anda sudah benar agar tidak ada bakteri yang berkembang. Berikut cara merawat pembalut kain yang bisa Anda lakukan:

  1. Bersihkan pembalut yang telah dipakai menggunakan air mengalir. Pastikan hingga darah dalam pembalut hilang
  2. Kemudian rendam pembalut dengan air dingin selama 40 menit
  3. Setelah itu, cuci menggunakan sabun mandi agar noda darah hilang sempurna, lalu bilas hingga bersih
  4. Rendam pembalut yang sudah dicuci dalam air panas dengan suhu 40oC
  5. Jemur pembalut kain di bawah sinar matahari untuk membunuh bakteri
  6. Setelah benar-benar kering, simpan di tempat yang bersih, kering, dan sejuk.

Hal-hal yang Harus Dihindari Saat Mencuci Pembalut Kain

  1. Hindari menggunakan terlalu banyak sabun dan deterjen karena jika tidak dibilas dengan benar dapat menumpuk, sehingga memengaruhi daya serap pembalut Anda Selain itu, deterjen atau sabun yang tersisa dapat menyebabkan iritasi pada kulit Anda 
  2. Tidak disarankan menggunakan pewangi dan pemutih pakaian karena dapat mengurangi daya serap pembalut
  3. Setrika harus dihindari karena suhu tinggi dapat merusak kain dan bantalan pembalut. 

Hal yang perlu diingat adalah untuk tidak meminjamkan pembalut kain Anda kepada siapa pun. Tujuannya untuk menghindari penularan infeksi menular seksual (IMS). Selain itu, jika selama pemakaian pembalut kain kulit Anda iritasi, segera hentikan pemakaian dan periksakan ke dokter.