Tongue Tie pada Bayi, Berbahaya atau Tidak?

Pernahkah Anda mendengar istilah tongue tie pada bayi? Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal juga dengan ankyloglossia. Kondisi ini terjadi pada bayi baru lahir yang membuat mereka mengalami keterbatasan dalam menggerakkan lidah.

Saat gerakan lidah menjadi terbatas, bayi akan kesulitan untuk berbicara. Selain itu, ini juga akan mempengaruhi kemampuan untuk menelan, mengunyah, serta menyapu sisa makanan untuk membersihkan mulut. 

Tanda-tanda bayi mengalami tongue tie

Biasanya, bayi yang mengalami kondisi ini dapat dideteksi ketika sedang menyusui. Ketika menyusui, bayi perlu menempel pada jaringan payudara dan puting susu Anda. Lidah mereka akan menutupi gusi bagian bawah mulut bayi, sehingga puting Anda terlindung dari kerusakan.

Akan tetapi, bayi yang mengalami tongue tie tidak bisa membuka mulut dengan cukup lebar. Akibatnya, posisi mulut bayi tidak bisa menempel pada payudara dengan benar. Inilah ciri utama dari kondisi tersebut.

Selain itu, Anda juga bisa menyadari adanya gejala lain pada bayi yang mengalami kondisi ini, seperti: 

  • Gelisah dan tampak lapar terus menerus
  • Berat badan tidak mudah bertambah seperti yang seharusnya
  • Kesulitan menempel pada payudara sang ibu
  • Menyusui dalam waktu yang lama
  • Mengeluarkan suara “klik” saat sedang menyusui

Bukan hanya pada bayi, ibu yang menyusui bayi dengan kondisi ini juga bisa merasakan gejala. Gejala ini berupa: 

  • Radang payudara atau mastitis
  • Suplai susu yang rendah
  • Puting terasa nyeri dan pecah-pecah

Apabila Anda merasakan adanya gejala-gejala di atas, baik gejala pada ibu menyusui maupun gejala pada bayi, lebih baik bawa bayi Anda untuk melakukan pemeriksaan ke dokter. 

Efek jangka panjang bila tidak diobati

Kondisi bayi yang mengalami tongue tie tidak boleh diremehkan. Anda harus segera membawa bayi Anda ke dokter untuk mendapatkan perawatan dini.

Karena, kondisi yang dibiarkan akan memiliki efek jangka panjang bagi kesehatan bayi Anda. Berikut ini beberapa efek tersebut: 

  • Masalah gigi

Bayi yang mengalami kondisi ini biasanya akan merasakan efek lain berupa masalah gigi. Masalah gigi yang terjadi berupa oklusi gigi atau misalignment, dimana posisi gigi yang tumbuh menjadi tidak sesuai dengan posisi yang seharusnya.

  • Kesulitan bicara

Efek jangka panjang lain yang bisa dirasakan oleh bayi Anda adalah kesulitan untuk berbicara. Ini secara khusus akan terjadi seiring bertambahnya usia. 

Karena gerakan lidah terbatas, bayi Anda sulit untuk mengucapkan kata-kata dengan bantuan lidahnya. Alhasil, hingga tumbuh besar nanti, anak akan mengalami masalah dalam berkata-kata. 

  • Gangguan pertumbuhan

Bayi yang mengalami tongue tie sulit untuk menyusui dengan benar. Ini menyebabkan penambahan berat badan yang lambat, tidak seperti bayi normal pada umumnya.

Penambahan berat badan yang terhambat juga akan mempengaruhi proses tumbuh dan berkembang. Bayi menjadi lebih rentan mengalami gangguan pada masa pertumbuhan.

Itulah beberapa efek jangka panjang yang akan terjadi apabila kondisi bayi tidak segera diobati. 

Beberapa orang menganggap bahwa kondisi ini tidak perlu mendapatkan perawatan khusus, karena bisa membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Namun, hal ini tidak selalu benar.

tonBila dibiarkan, bayi akan berhenti menyusui. Ini memiliki efek jangka panjang yang fatal, membuat bayi berhenti mendapatkan nutrisi penting untuk berkembang, serta menghambat kemampuannya untuk makan dan berbicara.Oleh sebab itu, jangan abaikan kondisi tongue tie pada bayi Anda. Segera bawa bayi untuk mendapatkan pengobatan dari dokter.

Bolehkah Ibu Menyusui Minum Kopi dan Efeknya pada Bayi

Kopi memiliki manfaat tersendiri bagi kesehatan bila diminum secukupnya. Tapi, bolehkah ibu menyusui minum kopi dan apa efeknya pada bayi?

Kandungan kafein pada kopi bisa terserap ke dalam ASI dan terminum oleh bayi saat menyusui. Lantas, amankah ibu menyusui tetap minum kopi atau harus menghindarinya?

Efek kafein pada ASI dan bayi

Seringkali kita mendengar anjuran untuk membatasi maupun menghindari asupan kopi baik saat hamil maupun menyusui. Tapi kafein di dalam kopi bisa membantu menambah energi pada ibu menyusui yang kerap kelelahan karena harus menyusui bayi kapanpun, lantas bolehkah ibu menyusui minum kopi?

Secara umum, sebenarnya aman bagi ibu menyusui untuk mengonsumsi kopi dan minuman berkafein lainnya namun tentu saja secukupnya. Minum kopi yang mengandung kafein tentu menimbulkan sejumlah efek pada tubuh, baik kecil maupun besar.

Bagi Anda tentunya bisa dengan mudah mengabaikan atau mengatasi efek tersebut, namun tidak dengan bayi Anda. Tiap bayi berbeda-beda dalam merespon kafein, ada yang sensitif ada yang hanya berefek minimal.

Bayi yang lahir prematur dan bayi yang berusia di bawah 6 bulan tidak mampu mencerna kafein dengan cepat, sehingga kemungkinan besar kafein akan menimbulkan efek pada mereka ketimbang bayi yang sudah berusia lebih tua. 

Bila dikonsumsi secukupnya, kafein berisiko rendah pada bayi dan hanya 1 persen yang terserap ke dalam ASI. Jumlah tersebut tentunya tidak berbahaya bagi kebanyakan bayi.

Namun apabila Anda mengonsumsinya secara berlebihan, kira-kira lebih dari 10 cangkir per hari, tentu akan menimbulkan efek tertentu bagi bayi. Seperti bayi mudah marah atau menangis, pola tidur yang buruk, tidur yang tidak tenang, dan kerap menangis. 

Dosis kafein yang aman untuk ibu menyusui

Perlu diketahui bahwa kandungan kafein tidak hanya terdapat pada kopi namun juga beberapa minuman dan makanan lainnya, seperti minuman berenergi, teh, minuman ringan atau bersoda, dan produk berbahan cokelat.

Pada kopi, jumlah kafein yang terkandung di dalamnya sangat berbeda-beda tergantung merek dan waktu penyeduhan dan faktor lainnya. Dalam satu cangkir kopi saja bisa mengandung 30 hingga 700 mg kafein, tentunya bergantung pada sebesar apa cangkir dan jenis biji kopi yang digunakan.

Sehingga, para ahli sepakat bahwa rekomendasi dosis kafein yang aman untuk ibu menyusui adalah maksimal 300 mg per hari. Jumlah tersebut bila ditakar setara dengan 2-3 cangkir kopi.

Dosis tersebut kecil kemungkinannya untuk menimbulkan efek yang merugikan pada bayi. Kadar kafein di dalam ASI bertahan selama 1-2 jam setelah meminumnya, oleh karena itu sebaiknya Anda tidak menyusui bayi dalam waktu-waktu tersebut.

Di sisi lain, bolehkah ibu menyusui minum kopi decaf? Kopi decaf (decaffeinated coffee) merupakan jenis kopi yang disebut-sebut tidak mengandung kafein sama sekali di dalamnya, namun sebenarnya tetap mengandung kafein meski dalam jumlah kecil.

Anda diperbolehkan minum kopi berjenis apa saja. Namun kopi decaf diketahui mengandung asam yang sangat tinggi yang bisa mengganggu kandungan zat besi di dalam ASI.

Pada dasarnya, tidak ada makanan dan minuman apapun yang perlu dihindari oleh ibu menyusui. Namun tentu saja Anda tetap perlu membatasi konsumsinya agar tidak berlebihan dan menimbulkan efek samping tertentu pada Anda dan juga bayi.

Apabila Anda merasa lelah dan kekurangan energi, cobalah beberapa alternatif lain untuk meningkatkan energi seperti memperbanyak minum air putih, berkumpul bersama keluarga dan teman, memperbanyak gerak tubuh misalnya lewat olahraga, dan juga mengonsumsi makanan bernutrisi dengan gizi yang seimbang.

Bila Anda masih bertanya-tanya bolehkah ibu menyusui minum kopi karena Anda masih kesulitan meninggalkan kebiasan meminum kopi, Anda bisa mengkonsultasikannya kepada dokter untuk mendapatkan arahan mengonsumsi kopi yang aman atau solusi alternatif minuman berenergi yang lebih sehat lainnya.

Beberapa Tips Memilih Bedak Gatal Bayi yang Aman

Gatal yang dirasakan bayi sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi. Hal ini diakibatkan oleh panas sehingga menyebabkan munculnya ruam dan bengkak pada kulit bayi. Itulah kenapa bedak gatal bayi harus tersedia di rumah dan di mana saja bayimu berada.

Gatal akibat iritasi dan biang keringat dapat diatasi dengan bedak gatal bayi.

Produk bedak gatal bayi menjadi salah satu resolusi untuk mengatasi masalah kulit yang dialami bayi. Lebih dari itu, bedak gatal bayi juga dapat dijadikan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penyakit serius lainnya. 

Namun, sebelum membeli pastikan terlebih dahulu bedak gatal bayi tersebut cocok untuk bayimu. Pastikan produk bedak gatal bayi yang dipilih adalah produk yang aman dan sudah teruji klinis sehingga ketika digunakan tidak menimbulkan suatu reaksi tertentu.

Sebagai orang tua, pasti tidak menginginkan buah hati mengalami permasalahan kulit ataupun gangguan kesehatan yang lain akibat pemilihan atau pemakaian produk bedak gatal bayi. Oleh karena itu, para ibu perlu mengetahui tips untuk memilih bedak bayi yang aman berikut:

  • Sebaiknya Hindari Produk yang Mengandung Talc

Hal yang harus diperhatikan dalam memilih bedak gatal bayi adalah kandungan atau komposisi bedak tersebut. Upayakan untuk memilih bedak gatal bayi yang tidak mengandung talc. 

Keberadaan talc dalam bedak bayi hingga saat ini masih diperdebatkan. Ini karena sebagian talc mengandung senyawa asbestos yang dapat memicu kanker. Talc juga menyebabkan gangguan pernapasan karena mudah terhirup. 

  • Pilih Bedak Bayi dengan Kandungan Minyak Zaitun atau Chamomille

Produk perawatan kulit dengan bahan minyak zaitun atau chamomile dipercaya mampu menjaga kelembapan kulit dan membuatnya terhindar dari gejala iritasi. Manfaat ini pun berlaku pada kulit bayi. Bayi seringkali rewel saat mengalami gatal-gatal pada kulitnya yang disebabkan oleh kulit kering atau ruam.

Memilih bedak bayi dengan kandungan minyak zaitun atau chamomile dapat membantu menenangkan dan meredakan rasa perih yang mungkin muncul saat bayi menggaruk area kulit mereka yang gatal. 

  • Pilih Produk dengan pH yang Tepat 

Nilai pH atau power hydrogen menjadi hal yang harus dipertimbangkan selanjutnya dalam memilih bedak gatal bayi. Nilai pH itu sendiri merupakan tingkat yang menunjukkan derajat keasaman dan kebasaan dari sebuah produk. 

Pemilihan produk dengan nilai pH yang sesuai akan sangat berperan dalam menjaga kelembapan alami kulit si kecil. Ini bertujuan untuk mengetahui kadar hydrogen yang tepat dalam menjaga kelembaban kulit sehingga mencegah iritasi.

Kamu dapat menyesuaikan pH bedak gatal bayi di titik 4.9 hingga 5.5. Kulit bayi akan cepat mengalami iritasi dan kekeringan jika memilih pH di bawah atau di atas kadar yang telah ditentukan.

  • Pilih Bedak Non-perfume

Bahan pewangi atau parfum yang terkandung dalam produk perawatan kulit bisa saja berasal dari bahan-bahan yang tidak alami dan bahkan mengandung zat kimia. Seperti yang diketahui, sebisa mungkin bayi harus dihindarkan dari produk-produk perawatan maupun perlengkapan yang mengandung zat kimia. Hal ini disebabkan karena kulit bayi masih terlalu rentan terhadap zat-zat kimia.

Kontaminasi zat kimia pada bayi dapat memicu terjadinya masalah kesehatan yang fatal. Oleh karena itu, sangat penting bagi para ibu untuk teliti dalam memeriksa komposisi yang terkandung dalam bedak bayi. Jika terpaksa menggunakan produk berpewangi, pilihlah bedak gatal bayi yang mengandung pewangi alami seperti chamomile, minyak zaitun, atau lavender.

  • Teruji Klinis

Faktor terpenting dari sebuah produk, apa pun itu, adalah legalitas dari pembuat kebijakan. Legalitas, dalam hal ini izin edar atau izin penggunaan, pastinya dikantungi setelah suatu produk lulus serangkaian uji kelayakan. Di Indonesia, suatu produk dapat dikatakan aman apabila telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

Itulah beberapa tips yang dapat diterapkan oleh para orang tua ketika hendak membeli bedak gatal bayi. Semua orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, oleh karena itu, cermatlah dalam memilih semua yang akan digunakan oleh bayi, termasuk bedak gatal bayi.

Penyebab, Gejala dan Pengobatan Mata Juling pada Bayi

Pada dasarnya, mata bekerja bersama-sama untuk menjadi indera penglihatan. Mata juling adalah kondisi di mana mata manusia tidak bisa melihat dengan lurus mengikuti objek yang dilihat. Istilah mata juling dalam dunia kedokteran disebut dengan strabismus. Mata juling dapat dilihat sejak anak-anak, terutama pada saat usia balita bahkan saat masih bayi. Mata juling pada bayi dapat membuat kesulitan ketika melihat objek dalam bentuk tiga dimensi. Hal ini karena otak mengalami keadaan yang disebut dengan penglihatan ganda.

Sampai saat ini, penyebab mata juling pada bayi diketahui berasal dari bawaan keturunan hingga indikasi adanya masalah yang terjadi pada otak.

Pengertian Mata Juling pada Bayi

Mata juling atau strabismus adalah kondisi di mana kedua bola mata tidak melihat objek pada arah yang sama. Ketika satu bola mata melihat lurus, maka bola mata yang lain bisa saja melihat ke samping, ke atas atau ke bawah.

Terdapat tiga kondisi mata juling pada bayi. Pertama, ketika bola mata mendekati arah hidung, disebut dengan esotropia. Kedua, ketika bola mata menjauh dari arah hidung, disebut dengan exotropia. Ketiga, kondisi bola mata dengan salah satunya mengarah ke atas atau ke bawah, disebut dengan hypertropia.

Penyebab Mata Juling

Terdapat enam otot di sekitar mata yang berfungsi untuk melakukan koordinasi gerakan bola mata. Otot ini disebut dengan otot ekstraokular. Otot-otot inilah yang akan mengarahkan bola mata untuk melihat ke arah objek yang dituju.

Ketika seseorang mengalami mata juling, otak akan mendapatkan dua gambaran yang berbeda. Pada usia bayi, kondisi mata juling membuat otak yang sedang dalam fase belajar melihat akan mengabaikan gambar yang berasal dari mata yang juling. Sedangkan ketika mata juling terjadi pada usia dewasa, otak tidak dapat mengabaikan gambaran yang berasal dari mata juling. Sehingga, mata juling yang dialami pada usia dewasa rentan mengalami gejala double vision.

Gejala Mata Juling

Gejala utama dari mata juling pada bayi terlihat pada bola mata yang tidak bisa melihat lurus. Bayi yang baru lahir sering mengalami juling. Namun, jangan khawatir karena gejala ini akan berkurang setelah usia dua bulan. Kemudian menghilang pada saat usia empat bulan ketika kemampuan penglihatan bayi sudah berkembang. 

Sebagai orang tua harus memahami gejala-gejala yang dapat muncul ketika bayi mengalami mata juling. Berikut ini adalah gejala mata juling pada bayi yang harus diperhatikan oleh orang tua:

  • Bola mata bayi mengamati arah yang berbeda ketika melihat objek tertentu
  • Setelah berusia tiga bulan, bayi sering memutar-mutar matanya secara terus-menerus
  • Bola mata bayi tidak sejajar dan tidak bergerak secara bersamaan saat melihat
  • Bayi seringkali tidak mudah berkonsenterasi ketika melihat benda-benda tertentu

Pengobatan Mata Juling pada Bayi

Orang tua yang memiliki bayi berusia lebih dari enam bulan harus memerhatikan kesehatan matanya. Sebab, ketika bayi memiliki gejala mata juling sampai berumur lebih dari enam bulan sebaiknya segera diperiksa oleh dokter mata. Jika dibiarkan lebih lanjut, sangat dikhawatirkan menimbulkan gejala lain seperti mata malas.

Beberapa cara dilakukan untuk mengobati mata juling pada bayi sebagai berikut:

  • Menggunakan kacamata
  • Memakai eye patch
  • Memberikan obat tetes mata
  • Terapi otot mata
  • Operasi otot bola mata

Sebaiknya untuk bayi dengan usia lebih dari tiga bulan perlu diperhatikan kesehatan matanya. Selain itu, dapat juga dengan cara memeriksakan ke dokter mata secara berkala

Perlu dipahami bahwa kondisi mata juling pada bayi perlu diperhatikan dan jangan diremehkan. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi mata juling pada bayi yang tidak ditangani dengan benar dapat mengakibatkan amblyopia atau mata malas. Jangan menunda pemeriksaan mata pada bayi agar terhindar dari komplikasi penyakit lain.

Susu Chil Kid Soya Untuk Usia 1 Tahun

Susu Chil Kid untuk usia 1 tahun memiliki varian soya yang diketahui dapat dikonsumsi untuk anak yang mengalami alergi laktosa. Susu Morinaga Chil Kid Soya MoriCare Σ Triple Bifidus merupakan susu formula pertumbuhan untuk anak usia 1-3 tahun yang mengalami alergi susu sapi atau intoleran terhadap laktosa atau yang menderita galaktosemia. Susu Chil Kid untuk usia 1 tahun ini tidak mengandung susu dan hasil olahannya, bebas laktosa, tapi masih ada kemungkinan alergi terhadap protein kedelai.

Morinaga Chil Kid merupakan jenis susu formula untuk bayi

Susu formula kedelai merupakan alternatif susu formula sapi yang semakin populer. Beberapa orang tua lebih suka susu formula kedelai karena alasan etika atau lingkungan, sementara yang lain percaya susu tersebut dapat mengurangi kolik, mencegah alergi, atau mengurangi risiko penyakit anak mereka di kemudian hari.

Namun, penggunaan susu formula kedelai memiliki beberapa risiko dan mungkin bukan pilihan pemberian makanan yang aman untuk semua bayi. Berikut penjelasan mengenai susu formula kedelai yang perlu Anda ketahui.

Perbandingan Susu Formula Kedelai dengan Susu Formula Lain

Semua susu formula bayi harus memenuhi kriteria tertentu mengenai komposisi, kemurnian, dan kandungan gizinya. Proses pengaturan ini membantu memastikan bahwa semua susu formula untuk bayi memenuhi kebutuhan nutrisi bayi , terlepas dari bahan pembuatannya.

Karena itu, susu formula kedelai mengandung kalori dan nutrisi penting dalam jumlah yang sama dengan jenis susu formula bayi lainnya. Oleh karena itu, susu formula kedelai memiliki kemampuan yang sama untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi.

Manfaat Kesehatan Susu Formula Kedelai

Beberapa orang tua yang lebih menyukai susu formula kedelai percaya bahwa itu adalah pilihan paling bermanfaat untuk kesehatan anak mereka saat ini dan di masa depan.

Keyakinan ini mungkin berasal dari penelitian yang menghubungkan diet kaya kedelai dengan risiko penyakit tertentu yang lebih rendah, termasuk diabetes tipe 2 dan penyakit jantung pada orang dewasa. Namun, saat ini tidak ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan susu formula kedelai pada masa bayi mengurangi risiko bayi terkena penyakit ini di kemudian hari.

Demikian pula, tidak ada bukti kuat bahwa susu formula kedelai mengurangi masalah pencernaan seperti kolik atau menawarkan perlindungan tambahan terhadap alergi. Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak penelitian sebelum kesimpulan yang kuat dapat dibuat.

Di sisi lain, para ahli sepakat bahwa susu formula kedelai adalah pilihan paling tepat untuk bayi dengan galaktosemia atau defisiensi laktase herediter, dua kondisi medis yang mencegah bayi dapat mengurai gula alami dalam susu sapi.

Susu formula kedelai juga menjadi pilihan paling tepat untuk keluarga vegan. Meskipun vitamin D3 dalam kebanyakan susu formula kedelai saat ini bersumber dari lanolin domba, tapi susu formula kedelai adalah pilihan yang tersedia untuk susu formula bayi vegan.

Kandungan Isoflavon pada Susu Formula Kedelai

Susu formula kedelai secara alami kaya akan isoflavon, yaitu senyawa tumbuhan dengan struktur yang mirip dengan hormon estrogen. Bayi yang diberi susu formula kedelai biasanya menerima lebih banyak isoflavon kedelai daripada bayi yang disusui atau diberi susu formula sapi. 

Oleh karena itu, beberapa orang takut bahwa susu formula kedelai mungkin memiliki efek seperti estrogen pada saat dalam perkembangan ketika kadar estrogen biasanya rendah. Ketakutan ini dipicu oleh penelitian pada hewan yang lebih tua yang melaporkan berbagai kelainan pada hewan yang terpapar isoflavon kedelai.

Namun, penting untuk dicatat bahwa estrogen jauh lebih kuat daripada isoflavon kedelai, dan hewan melakukan metabolisme isoflavon kedelai secara berbeda dari manusia.

Hal ini bisa menjelaskan mengapa penelitian pada manusia biasanya tidak mengamati efek jangka panjang yang signifikan pada bayi yang diberi susu formula kedelai, termasuk sedikit atau tidak ada perbedaan dalam perkembangan seksual atau fungsi otak, tiroid, dan kekebalan.

Dengan mempertimbangkan banyaknya manfaat yang dapat diterima anak dari mengonsumsi susu formula kedelai, Anda bisa memilih susu Chil Kid untuk usia 1 tahun seperti Morinaga Chil Kid Soya MoriCare Σ Triple Bifidus dengan harga Rp 168.500 untuk ukuran 600 gram dan tersedia untuk rasa vanila dan madu.

8 Rekomendasi Merek Botol Susu Bayi Terbaik

Ada banyak merek botol susu bayi dan beragam modelnya yang dijual di pasaran. Botol susu ini biasanya didesain khusus agar bayi mudah menyusu dari botol.

Saat memilih botol susu, penting untuk disesuaikan dengan usia bayi. Selain itu, pilih bahan botol dan dot yang bisa mengalirkan susu. Paling penting sekali memilih botol susu yang tidak menyebabkan bayi tersedak sehingga tidak terjadi kolik.

Rekomendasi Botol Susu Bayi

  1. Comotomo Baby Bottle

Botol susu yang satu ini memiliki tekstur botol yang terbuat dari silikon sehingga lembut dan aman dipegang oleh bayi.

Botol ini juga akan tetap aman meskipun terjatuh. Bayi pun juga merasa nyaman memegang botol susu ini sendiri.

Material Comotomo baby bottle ini juga tahan panas sehingga mudah untuk disterilkan, baik dengan cara direbus, menggunakan sterilizer, dan microwave.

  1. Mam Anti-colic 5oz – Baby Bottle

Botol susu yang satu ini terbuat dari bahan yang tahan terhadap suhu panas. Mensterilkan botol susu ini bisa menggunakan microwave tanpa tahun rusak. 

Dot juga didesain menyerupai puting sehingga si kecil akan lebih nyaman. Bagian dasar juga sudah dilengkapi dengan lubang ventilasi sehingga tekanan dalam botol tetap seimbang.

  1. Dr Brown’s Natural Flow

Botol susu bayi dari Dr. Brown’s punya fitur dan teknologi internal vent system yang bisa memenuhi kebutuhan si kecil saat menyusu.

Adanya sistem ventilasi ini akan membantu mencegah gelembung udara tertelan oleh bayi. Ini akan mencegah bayi mengalami kembung dan kolik.

Botol susu ini punya efek vakum yang akan memastikan semua nutrisi penting ASI atau susu formula tetap terjaga.

  1. Mimijumi Very Hungry Baby Bottle

Botol susu bayi yang satu ini punya desain yang unik. Bahan pembuat botol dan dotnya berkualitas. Dotnya terbuat dari silikon dan memiliki warna serupa kulit.

Bagian dasar botol susu juga dilengkapi dengan bantalan yang antiselip sehingga memudahkan Ibu saat menuangkan air panas saat membuat susu formula.

  1. Philips Avent Natural Baby Bottle

Dot botol susu ini punya desain yang menyerupai payudara Ibu, teksturnya pun sangat lembut dan lentur. 

Dot yang lentur akan memudahkan saat bayi sedang menyusu dan juga mengurangi kemungkinan udara masuk ke saluran pencernaan bayi.

  1. Medela Calma

Medela Calma punya teknologi yang berbeda diabnding botol susu lain. Botol susu ini baru akan mengalirkan susu ketika bayi mengisap botol dengan cara yang tepat, seperti saat bayi mengisap payudara Ibunya. Ini tentu akan membantu karena bisa mengatur sendiri kapan bayi bernapas, ingin mengisap susu, dan berhenti sejenak. Dijamin, botol susu ini bisa mencegah bayi dari risiko tersedak.

  1. Pigeon Nursing Bottle

Merek Pigeon tentu sudah tak asing lagi karena sudah terkenal luas. Kualitas yang baik dan harga yang terjangkau membuat botol susu ini menjadi pilihan banyak Ibu untuk anaknya.

Pigeon Nursing Bottle ini terbuat dari bahan polypropylene dan juga bebas BPA. Botol ini juga punya keunggulan berupa fitur peristaltic nipple yang memungkinkan lidah bayi bergerak lebih alami seperti saat emngisap ASI langsung dari Ibu. Hal ini akan menghindari bayi dari risiko tersedak.

  1. Sweety Baby Bottle Extra Wide Neck

Botol susu bayi dari Sweety ini juga bisa jadi pilihan, sebab 100 persen bebas BPA. Ukuran leher botol pun juga lebar sehingga akan memudahkan saat mencuci atau membuat susu di dalam botolnya.

Botol kacanya dilindungi karet silikon anti selip, anti pecah, dan food grade. Bahan pembuat botol pun tahan panas hingga 100 derajat celcius, aman direbus, di steam uap, dimasukkan dalam pemanas susu, atau pun masuk microwave.

Uniknya lagi, botol susu bayi Sweety ini anti sebu sehingga botol dan dot akan terjaga tetap higienis. Selain itu juga mengurangi udara masuk ke dalam botol susu karena dot anti colic. Bayi pun aman tanpa takut tersedak.

Milna Bubur Bayi 6 Bulan Solusi Mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM)

Masalah anak tidak mau makan rasanya dialami hampir setiap orang tua. Mogok makan atau biasa dikenal dengan istilah gerakan tutup mulut (GTM) ini, umumnya dialami anak-anak yang sudah dikenalkan makanan padat. Meski begitu, seringkali jika anak baru memulai MPASI pun kadang kala mengalami GTM. Milna bubur bayi 6 bulan ini bisa menjadi solusi karena Anda bisa mengatur sendiri tekstur yang diinginkan.

Milna Bubur Reguler 6 Bulan Tim Hati Ayam Bayam 120 g harga terbaik

Milna bubur bayi ini juga bisa digunakan sebagai pengenalan terhadap rasa dan tekstur makanan pada si kecil. Meski termasuk bubur instan, milna bubur bayi ini sudah kaya nutrisi dan gizi yang memenuhi kebutuhan. Biasanya rasa yang dihasilkan dari bubur instan ini bisa menjadi solusi dari GTM yang dialami. Kalau anak GTM hanya beberapa hari, orang tua tentu tak perlu khawatir. Tapi kalau sampai berminggu-minggu, sudah saatnya Anda mencari penyebab dan solusinya.

  1. Kenali Tanda Bayi Tidak Tertarik Makan

Tanda-tanda bahwa bayi GTM, tidak tertarik atau kenyang bisa dilihat saat si kecil menutup mulut dengan erat dan memalingkan kepala saat ditawarkan makanan. Bisa jadi bayi juga akan menangis saat ditawarkan makanan atau mungkin mendorong sendok. Jika ini terjadi pada upaya pertama untuk memberi makan bayi, tetap rileks dan coba lagi dalam beberapa hari. Kebanyakan bayi secara alami mengeluarkan makanan ketika pertama kali diberikan makanan padat, tapi akan segera belajar untuk menerima makanan jika terus dilanjutkan.

  1. Jadikan Waktu Makan Lebih Menarik

Berilah waktu maksimal 30 menit tiap waktu makan. Buat suasana yang nyaman yang menyenangkan agar bayi tidak GTM. Misalnya dengan bercerita atau bernyanyi lagu favorit si kecil saat makan. Pilih makanan kesukaan bayi juga akan membuat makannya lebih lahap.

  1. Bersiap untuk Banyaknya Kotoran

Semua bayi akan menghasilkan ‘kekacauan’ saat mulai belajar makan. Jangan terlalu mengkhawatirkan air yang tumpah, makanan yang jatuh atau makanan yang belepotan di mulut dan baju bayi. Itu bisa dibersihkan nanti setelah waktu makan. Jika si kecil terlihat menikmati waktu makannya, itu adalah waktu yang sayang untuk terlewatkan hanya dengan langsung membersihkan makanan. Tetap bersama bayi saat makan untuk menghindari kecelakaan seperti tersedak.

  1. Beri Variasi Makanan

Saat bayi GTM, bisa jadi si kecil mulai bosan saat waktu makan. Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan finger food yang akan menarik perhatiannya. Siapkan camilan yang dapat langsung makan ke mulutnya sendiri tanpa bantuan. Si kecil juga akan mengeksplor tekstur makanannya sendiri. Tawarkan juga lebih banyak variasi buah, sayuran, daging, ayam, dan ikan yang dimasak dengan baik yang bisa berbentuk finger food atau diolah terlebih dahulu. Jangan lupa untuk memperkenalkan makanan lain dengan tekstur berbeda seperti pasta, nasi, sereal dan roti

  1. Jadikan Tampilan Makanan Lebih Menarik

Jika bayi masih GTM, terus tawarkan makanan baru di waktu yang berbeda. Si kecil mungkin akan mencobanya dan akhirnya menyukainya, tetapi dia mungkin harus melihat makanan di atas piring 10-15 kali sebelum mencoba merasakannya. Jadikan tampilan makanan lebih menarik. Tawarkan bayi makanan dengan berbagai warna, bentuk dan ukuran yang berbeda dan biarkan Si kecil memilih apa yang dia makan dari piring. Letakkan sedikit makanan baru di piring dengan makanan favoritnya, misalnya sepotong brokoli bersama kentang tumbuk. Dorong Si kecil untuk menyentuh, mencium, atau menjilat makanan baru.

Hati-hati, Pusar Bayi Bau Bisa Jadi Tanda Infeksi

Infeksi bisa jadi penyebab tali pusar bayi bau. Selain muncul bau tak sedap, infeksi tali pusat bisa ditandai dengan tali pusat yang basah, bernanah, timbul ruam merah atau bengkak di sekitar pangkal tali pusat, dan kadang disertai pendarahan dan demam. 

Namun, jika pusar bayi bau tidak disertai keluhan lain yang berbahaya, seringnya kondisi ini bisa ditangani di rumah. 

Tanda infeksi pada pusar bayi bau

Biasanya, infeksi tali pusat dapat terjadi akibat kurang terjaganya kebersihan tali pusat pada saat bayi baru lahir ataupun sepanjang masa perawatan tali pusat. 

Bisa jadi sisa tali pusat tersebut terkena air kencing bayi yang mengandung bakteri atau kuman, apalagi bila kondisi lingkungan di sekitarnya lembab sehingga memudahkan bakteri atau kuman berkembang biak.

Berikut ini tanda pusar bayi bau sebagai penyebab dari infeksi: 

  • merah, bengkak, hangat, atau kulit lembut di sekitar tali pusat
  • nanah (cairan kuning kehijauan) mengalir dari kulit di sekitar tali pusat
  • bau tak sedap yang berasal dari kabelnya
  • berdarah
  • demam
  • bayi yang rewel, tidak nyaman, atau sangat mengantuk

Kapan harus ke dokter?

Tali pusar memiliki akses langsung ke aliran darah, sehingga infeksi ringan pun bisa menjadi serius dengan cepat. Ketika infeksi memasuki aliran darah dan menyebar (disebut sepsis), itu dapat menyebabkan kerusakan yang mengancam jiwa pada organ dan jaringan tubuh anak Anda. 

Hubungi dokter anak segera jika Anda melihat salah satu dari tanda-tanda infeksi tali pusar. Bayi prematur berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi parah dari jenis infeksi ini karena mereka sudah memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Perawatan pusar bayi bau karena infeksi

Untuk menentukan pengobatan yang paling tepat untuk infeksi anak Anda, dokter biasanya akan mengambil sampel area yang terinfeksi. Kemudian sampel akan diperiksa di laboratorium sehingga kuman penyebab infeksi dapat diidentifikasi. 

Setelah penyebab gejala diidentifikasi, pengobatan sangat bergantung pada seberapa parah infeksi tali pusar. Berikut ini penjelasannya:

  • Untuk infeksi ringan, dokter anak akan merekomendasikan salep antibiotik beberapa kali sehari pada kulit di sekitar tali pusat. Contoh infeksi ringan adalah jika ada sedikit nanah, tetapi anak Anda tampak baik-baik saja.
  • Untuk infeksi yang lebih serius, bayi Anda kemungkinan besar perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan antibiotik intravena untuk melawan infeksi. Antibiotik intravena diberikan melalui jarum yang dimasukkan ke pembuluh darah. Bayi yang diberi antibiotik intravena biasanya menerimanya selama sekitar 10 hari. Mereka kemudian dapat diberikan antibiotik tambahan melalui mulut mereka.
  • Dalam beberapa kasus, infeksi mungkin perlu dikeringkan dengan operasi terutama jika infeksi telah menyebabkan jaringan mati. Operasi diperlukan untuk mengangkat sel-sel mati tersebut.

Berapa lama untuk pulih?

Ketika infeksi serius terdeteksi lebih awal, kebanyakan bayi pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu. Tetapi mereka biasanya perlu tinggal di rumah sakit selama menerima antibiotik intravena.

Jika bayi Anda menjalani operasi untuk mengeringkan infeksinya, lubangnya mungkin telah “dibungkus” dengan kain kasa. Kain kasa akan membuat luka tetap terbuka dan mengeluarkan nanah. Setelah pengeringan berhenti, kain kasa dilepas dan luka akan sembuh dari bawah ke atas.

Meski begitu, bau tidak sedap pada tali pusar juga bisa jadi tidak berbahaya. Biasanya pusar bayi bau ini muncul karena penumpukan kotoran dan sel kulit mati di sekitar tali pusarnya. Jadi pastikan untuk selalu menjaga kesehatan tali pusar bayi, ya!

Asupan Asam Linoleat untuk Bayi, Penting atau Tidak?

Bayi memerlukan banyak sekali nutrisi untuk mendukung proses tumbuh dan kembangnya. Salah satunya adalah asam linoleat. Asam linoleat untuk bayi akan bekerja dengan membangun sel, mengatur sistem saraf, memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta perkembangan fungsi otak.

Tubuh bayi belum bisa memproduksi asam linoleat sendiri. Oleh sebab itu, nutrisi ini hanya bisa didapatkan dari asupan makanan. Asam ini tergolong sebagai asam lemak esensial yang ada pada omega-3 dan omega-6.

Pentingnya Asam Linoleat untuk Bayi

Asam lemak esensial adalah jenis lemak yang penting dalam makanan bayi. Sebagai asam lemak esensial, asam linoleat berkontribusi dalam membantu tubuh bayi Anda untuk menyerap nutrisi lainnya.

Kekebalan tubuh bayi Anda akan berkembang menjadi lebih baik. Selain itu, kesehatan jantung bayi Anda juga akan semakin terjaga.

Asam linoleat bisa didapatkan dari asupan nutrisi omega-3 dan omega-6. Keduanya merupakan jenis lemak tak jenuh ganda yang membantu dalam menurunkan kolesterol, mengurangi peradangan, dan meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan.

Beberapa ahli juga berpendapat bahwa ketidakseimbangan asam linoleat untuk bayi bisa merusak respon sistem kekebalan tubuh bayi, menyebabkan bayi rentan terkena penyakit.

Oleh sebab itu, asupan asam linoleat sangat penting bagi bayi Anda. Khususnya, karena asam ini belum bisa diproduksi oleh tubuh bayi, maka Anda perlu memastikan makanan yang dikonsumsi bisa memenuhi asupan ini.

Cara mendapatkan asam linoleat untuk bayi

Bayi tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman secara sembarangan. Mereka juga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen omega-3 dan omega-6 untuk memenuhi kebutuhan asam linoleat bagi tubuh mereka. 

Oleh sebab itu, sumber asam linoleat bagi bayi sangat terbatas. Sumber-sumber itu antara lain:

  • Daging sapi
  • Mayonaise
  • Tahu dan telur
  • ASI
  • Minyak nabati 
  • Ikat laut berlemak, seperti tuna dan salmon

Meskipun makanan ini menjadi sumber asam linoleat untuk bayi yang baik, Anda tetap perlu berhati-hati. Karena, asam lemak omega-6 memiliki sifat proinflamasi. Bila dikonsumsi berlebihan, ini bisa menyebabkan gangguan pada kesehatan bayi Anda. 

Bukan hanya bayi Anda yang perlu berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, tetapi Anda juga. Khususnya, jika bayi Anda masih menyusui.

Makanan yang Anda konsumsi akan mempengaruhi kualitas ASI Anda. Oleh sebab itu, berhati-hatilah pada kandungan-kandungan di makanan yang bisa meracuni ASI Anda.

Kebutuhan harian asam linoleat untuk bayi

Asam linoleat bisa didapatkan dari omega-3 dan omega-6. Kebutuhan harian untuk bayi Anda mungkin akan berbeda-beda, tergantung usia mereka. Untuk anak usia 1-3 tahun, asupan yang disarankan adalah:

  • 7 gram omega-6 per hari
  • 0,7 gram omega-3 per hari

Sementara, untuk anak usia 4-8 tahun, asupan yang disarankan adalah sebagai berikut:

  • 10 gram omega-6 per hari
  • 0,9 gram omega-3 per hari

Bayi Anda bisa mendapatkan asupan omega-6 yang berlimpah dari berbagai makanan. Nutrisi ini bisa didapatkan dari susu dan berbagai minyak yang digunakan untuk memasak. Misalnya seperti minyak jagung, minyak zaitun, dan minyak bunga matahari.

Anda mungkin perlu lebih berfokus untuk mencari sumber asupan omega-3. Karena, makanan omega-3 yang cocok untuk bayi tidak terlalu mudah untuk didapatkan. Anda mungkin bisa mendapatkannya dari telur, salmon, tahu, kedelai, dan kubis.

Dengan memperhatikan asupan asam linoleat untuk bayi, Anda bisa menjaga kesehatan bayi Anda. Perkembangan bayi Anda bisa menjadi lebih baik secara keseluruhan dengan asupan asam linoleat yang memadai.

Olahraga Ibu Menyusui Tanpa Sebabkan Masalah Menyusui

Pasca melahirkan, Anda tentu membayangkan bisa melakukan berbagai hal kembali yang sempat terkendala ketika mengandung. Salah satunya adalah melakukan olahraga untuk membuat tubuh kembali segar dan berat badan bisa kembali ideal. Namun, kebanyakan oran juga ragu untuk melakukan olahraga ibu menyusui karena berbagai sebab.

Kekhawatiran akan menurunnya produksi air susu ibu (ASI) menjadi hal utama yan menghalangi banyak orang melakukan olahjraga ibu menyusui. Di samping itu, banyak orang beranggapan olahraga akan menghabiskan banyak waktu sehingga sulit dilakukan sebab si kecil selalu ingin berada dalam dekapan. Alhasil selama menyusui, Anda pun menjadi tidak pernah olahraga sehingga berdampak pada kebugaran tubuh yang berkurang sampai bentuk tubuh yang sulit untuk kembali seperti ke awal sebelum hamil.

Padahal sebenarnya, olahraga ibu menyusui bisa dengan aman dilakukan. Melakukan olahraga ketika menyusui pun tidak serta-merta akan mengurangi produksi ASI Anda jika dilakukan dengan benar. Berikut ini tips-tips yang bisa Anda ikuti guna dapat melakukan olahraga ibu menyusui tanpa mengkhawatirkan produksi ASI maupun problematika waktu.

  • Sedikit Tambahkan Kalori

Ibu menyusui setidaknya membutuhkan 500 kalori lebih tinggi daripada kebutuhan wanita dewasa agar bisa menghasilkan produk ASI yang mencukupi. Jadi jika wanita dewasa membutuhkan sekitar 1.200—1.500 kalori per hari, ibu yang sedang menyusui baiknya mengonsumsi makanan dan minuman dengan nilai hingga 2.000 kalori.

Khusus jika Anda ingin melakukan olahraga ibu menyusui, tambahlah sedikit lagi asupan kalori Anda. Ini guna memastikan bahwa kalori yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi ASI tidak terganggu dengan kegiatan olaraga Anda. Satu gelas susu full cream ataupun satu porsi camilan sore bisa menjadi penolong untuk mempertahankan produksi ASI di tengah aktivitas olahraga.

  • Perbanyak Minum Air

Tubuh yang terhidrasi dengan baik bisa menjamin produksi ASI tetap terjaga. Sebaliknya ketika Anda mengalami dehidrasi, besar kemungkinan produksi ASI akan berkurang dan tidak mampu memenuhi kebutuhan tumbuh kembang si buah hati. Inilah yang perlu Anda waspadai sebab ketika berolahraga, tubuh cenderung lebih banyak mengeluarkan cairan yang bisa membuat dehidrasi.

Namun, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan olahraga ibu menyusui. Anda hanya perlu menyiasatinya dengan memperbanyak minum air putih sebelum dan sesudah berolahraga. Jika diperlukan, Anda juga bisa mengonsumsi susu kacang ataupun jus sayuran segar guna memastikan suplai ASI tetap terjaga, meskipun Anda aktif berolahraga.

  • Pompa Sebelum Berolahraga

Kemungkinan suplai ASI berkurang sesaat setelah berolahraga tetap ada. Namun tenang saja, ASI akan kembali terproduksi dengan lancar apabila jumlah kalori yang Anda asup mencukupi diserta hidrasi yang memadai. Hanya saja perlu diingat, anak Anda bisa meminta ASI kapan saja, tidak terkecuali bertepatan setelah Anda berolahraga.

Tidak perlu bingung. Anda bisa melakukan strategi memompa ASI sesaat sebelum olahraga. ASI yang dipompa tersebut khusus diperuntukkan jika anak meminta ASI sesaat setelah latihan Anda selesai. Anda kenyang, Anda pun bisa tenang. Memompa ASI sebelum olahraga juga dapat membuat latihan lebih nyaman karena menghindari payudara yang terasa penuh dan membuat Anda tidak bebas bergerak.

  • Olahraga di Rumah

Waktu adalah segalanya bagi ibu menyusui. Apalagi jika Anda kerap melakukan menyusui langsung, Anda mesti siap jika anak Anda ingin menyusu kapan saja ketika Anda tengah berolahraga.

Untuk mempermudah kegiatan olahraga sambil menyusui, baiknya lakukan olahraga simpel yang bisa dilakukan dari rumah. Yoga ataupun aerobik yang mengambil contoh dari pemutar rekaman DVD bisa menjadi pilihan.

***

Melakukan olahraga ibu menyusui akan membantu tubuh memproduksi hormon endorfin. Alih-alih bermasalah bagi produksi ASI, produksi hormon ini bisa mencegah Anda dari stres sehingga kuantitas dan kualitas air susu bisa terjaga.