Milna Bubur Bayi 6 Bulan Solusi Mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM)

Masalah anak tidak mau makan rasanya dialami hampir setiap orang tua. Mogok makan atau biasa dikenal dengan istilah gerakan tutup mulut (GTM) ini, umumnya dialami anak-anak yang sudah dikenalkan makanan padat. Meski begitu, seringkali jika anak baru memulai MPASI pun kadang kala mengalami GTM. Milna bubur bayi 6 bulan ini bisa menjadi solusi karena Anda bisa mengatur sendiri tekstur yang diinginkan.

Milna Bubur Reguler 6 Bulan Tim Hati Ayam Bayam 120 g harga terbaik

Milna bubur bayi ini juga bisa digunakan sebagai pengenalan terhadap rasa dan tekstur makanan pada si kecil. Meski termasuk bubur instan, milna bubur bayi ini sudah kaya nutrisi dan gizi yang memenuhi kebutuhan. Biasanya rasa yang dihasilkan dari bubur instan ini bisa menjadi solusi dari GTM yang dialami. Kalau anak GTM hanya beberapa hari, orang tua tentu tak perlu khawatir. Tapi kalau sampai berminggu-minggu, sudah saatnya Anda mencari penyebab dan solusinya.

  1. Kenali Tanda Bayi Tidak Tertarik Makan

Tanda-tanda bahwa bayi GTM, tidak tertarik atau kenyang bisa dilihat saat si kecil menutup mulut dengan erat dan memalingkan kepala saat ditawarkan makanan. Bisa jadi bayi juga akan menangis saat ditawarkan makanan atau mungkin mendorong sendok. Jika ini terjadi pada upaya pertama untuk memberi makan bayi, tetap rileks dan coba lagi dalam beberapa hari. Kebanyakan bayi secara alami mengeluarkan makanan ketika pertama kali diberikan makanan padat, tapi akan segera belajar untuk menerima makanan jika terus dilanjutkan.

  1. Jadikan Waktu Makan Lebih Menarik

Berilah waktu maksimal 30 menit tiap waktu makan. Buat suasana yang nyaman yang menyenangkan agar bayi tidak GTM. Misalnya dengan bercerita atau bernyanyi lagu favorit si kecil saat makan. Pilih makanan kesukaan bayi juga akan membuat makannya lebih lahap.

  1. Bersiap untuk Banyaknya Kotoran

Semua bayi akan menghasilkan ‘kekacauan’ saat mulai belajar makan. Jangan terlalu mengkhawatirkan air yang tumpah, makanan yang jatuh atau makanan yang belepotan di mulut dan baju bayi. Itu bisa dibersihkan nanti setelah waktu makan. Jika si kecil terlihat menikmati waktu makannya, itu adalah waktu yang sayang untuk terlewatkan hanya dengan langsung membersihkan makanan. Tetap bersama bayi saat makan untuk menghindari kecelakaan seperti tersedak.

  1. Beri Variasi Makanan

Saat bayi GTM, bisa jadi si kecil mulai bosan saat waktu makan. Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan finger food yang akan menarik perhatiannya. Siapkan camilan yang dapat langsung makan ke mulutnya sendiri tanpa bantuan. Si kecil juga akan mengeksplor tekstur makanannya sendiri. Tawarkan juga lebih banyak variasi buah, sayuran, daging, ayam, dan ikan yang dimasak dengan baik yang bisa berbentuk finger food atau diolah terlebih dahulu. Jangan lupa untuk memperkenalkan makanan lain dengan tekstur berbeda seperti pasta, nasi, sereal dan roti

  1. Jadikan Tampilan Makanan Lebih Menarik

Jika bayi masih GTM, terus tawarkan makanan baru di waktu yang berbeda. Si kecil mungkin akan mencobanya dan akhirnya menyukainya, tetapi dia mungkin harus melihat makanan di atas piring 10-15 kali sebelum mencoba merasakannya. Jadikan tampilan makanan lebih menarik. Tawarkan bayi makanan dengan berbagai warna, bentuk dan ukuran yang berbeda dan biarkan Si kecil memilih apa yang dia makan dari piring. Letakkan sedikit makanan baru di piring dengan makanan favoritnya, misalnya sepotong brokoli bersama kentang tumbuk. Dorong Si kecil untuk menyentuh, mencium, atau menjilat makanan baru.

Hati-hati, Pusar Bayi Bau Bisa Jadi Tanda Infeksi

Infeksi bisa jadi penyebab tali pusar bayi bau. Selain muncul bau tak sedap, infeksi tali pusat bisa ditandai dengan tali pusat yang basah, bernanah, timbul ruam merah atau bengkak di sekitar pangkal tali pusat, dan kadang disertai pendarahan dan demam. 

Namun, jika pusar bayi bau tidak disertai keluhan lain yang berbahaya, seringnya kondisi ini bisa ditangani di rumah. 

Tanda infeksi pada pusar bayi bau

Biasanya, infeksi tali pusat dapat terjadi akibat kurang terjaganya kebersihan tali pusat pada saat bayi baru lahir ataupun sepanjang masa perawatan tali pusat. 

Bisa jadi sisa tali pusat tersebut terkena air kencing bayi yang mengandung bakteri atau kuman, apalagi bila kondisi lingkungan di sekitarnya lembab sehingga memudahkan bakteri atau kuman berkembang biak.

Berikut ini tanda pusar bayi bau sebagai penyebab dari infeksi: 

  • merah, bengkak, hangat, atau kulit lembut di sekitar tali pusat
  • nanah (cairan kuning kehijauan) mengalir dari kulit di sekitar tali pusat
  • bau tak sedap yang berasal dari kabelnya
  • berdarah
  • demam
  • bayi yang rewel, tidak nyaman, atau sangat mengantuk

Kapan harus ke dokter?

Tali pusar memiliki akses langsung ke aliran darah, sehingga infeksi ringan pun bisa menjadi serius dengan cepat. Ketika infeksi memasuki aliran darah dan menyebar (disebut sepsis), itu dapat menyebabkan kerusakan yang mengancam jiwa pada organ dan jaringan tubuh anak Anda. 

Hubungi dokter anak segera jika Anda melihat salah satu dari tanda-tanda infeksi tali pusar. Bayi prematur berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi parah dari jenis infeksi ini karena mereka sudah memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Perawatan pusar bayi bau karena infeksi

Untuk menentukan pengobatan yang paling tepat untuk infeksi anak Anda, dokter biasanya akan mengambil sampel area yang terinfeksi. Kemudian sampel akan diperiksa di laboratorium sehingga kuman penyebab infeksi dapat diidentifikasi. 

Setelah penyebab gejala diidentifikasi, pengobatan sangat bergantung pada seberapa parah infeksi tali pusar. Berikut ini penjelasannya:

  • Untuk infeksi ringan, dokter anak akan merekomendasikan salep antibiotik beberapa kali sehari pada kulit di sekitar tali pusat. Contoh infeksi ringan adalah jika ada sedikit nanah, tetapi anak Anda tampak baik-baik saja.
  • Untuk infeksi yang lebih serius, bayi Anda kemungkinan besar perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan antibiotik intravena untuk melawan infeksi. Antibiotik intravena diberikan melalui jarum yang dimasukkan ke pembuluh darah. Bayi yang diberi antibiotik intravena biasanya menerimanya selama sekitar 10 hari. Mereka kemudian dapat diberikan antibiotik tambahan melalui mulut mereka.
  • Dalam beberapa kasus, infeksi mungkin perlu dikeringkan dengan operasi terutama jika infeksi telah menyebabkan jaringan mati. Operasi diperlukan untuk mengangkat sel-sel mati tersebut.

Berapa lama untuk pulih?

Ketika infeksi serius terdeteksi lebih awal, kebanyakan bayi pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu. Tetapi mereka biasanya perlu tinggal di rumah sakit selama menerima antibiotik intravena.

Jika bayi Anda menjalani operasi untuk mengeringkan infeksinya, lubangnya mungkin telah “dibungkus” dengan kain kasa. Kain kasa akan membuat luka tetap terbuka dan mengeluarkan nanah. Setelah pengeringan berhenti, kain kasa dilepas dan luka akan sembuh dari bawah ke atas.

Meski begitu, bau tidak sedap pada tali pusar juga bisa jadi tidak berbahaya. Biasanya pusar bayi bau ini muncul karena penumpukan kotoran dan sel kulit mati di sekitar tali pusarnya. Jadi pastikan untuk selalu menjaga kesehatan tali pusar bayi, ya!

Asupan Asam Linoleat untuk Bayi, Penting atau Tidak?

Bayi memerlukan banyak sekali nutrisi untuk mendukung proses tumbuh dan kembangnya. Salah satunya adalah asam linoleat. Asam linoleat untuk bayi akan bekerja dengan membangun sel, mengatur sistem saraf, memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta perkembangan fungsi otak.

Tubuh bayi belum bisa memproduksi asam linoleat sendiri. Oleh sebab itu, nutrisi ini hanya bisa didapatkan dari asupan makanan. Asam ini tergolong sebagai asam lemak esensial yang ada pada omega-3 dan omega-6.

Pentingnya Asam Linoleat untuk Bayi

Asam lemak esensial adalah jenis lemak yang penting dalam makanan bayi. Sebagai asam lemak esensial, asam linoleat berkontribusi dalam membantu tubuh bayi Anda untuk menyerap nutrisi lainnya.

Kekebalan tubuh bayi Anda akan berkembang menjadi lebih baik. Selain itu, kesehatan jantung bayi Anda juga akan semakin terjaga.

Asam linoleat bisa didapatkan dari asupan nutrisi omega-3 dan omega-6. Keduanya merupakan jenis lemak tak jenuh ganda yang membantu dalam menurunkan kolesterol, mengurangi peradangan, dan meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan.

Beberapa ahli juga berpendapat bahwa ketidakseimbangan asam linoleat untuk bayi bisa merusak respon sistem kekebalan tubuh bayi, menyebabkan bayi rentan terkena penyakit.

Oleh sebab itu, asupan asam linoleat sangat penting bagi bayi Anda. Khususnya, karena asam ini belum bisa diproduksi oleh tubuh bayi, maka Anda perlu memastikan makanan yang dikonsumsi bisa memenuhi asupan ini.

Cara mendapatkan asam linoleat untuk bayi

Bayi tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman secara sembarangan. Mereka juga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen omega-3 dan omega-6 untuk memenuhi kebutuhan asam linoleat bagi tubuh mereka. 

Oleh sebab itu, sumber asam linoleat bagi bayi sangat terbatas. Sumber-sumber itu antara lain:

  • Daging sapi
  • Mayonaise
  • Tahu dan telur
  • ASI
  • Minyak nabati 
  • Ikat laut berlemak, seperti tuna dan salmon

Meskipun makanan ini menjadi sumber asam linoleat untuk bayi yang baik, Anda tetap perlu berhati-hati. Karena, asam lemak omega-6 memiliki sifat proinflamasi. Bila dikonsumsi berlebihan, ini bisa menyebabkan gangguan pada kesehatan bayi Anda. 

Bukan hanya bayi Anda yang perlu berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, tetapi Anda juga. Khususnya, jika bayi Anda masih menyusui.

Makanan yang Anda konsumsi akan mempengaruhi kualitas ASI Anda. Oleh sebab itu, berhati-hatilah pada kandungan-kandungan di makanan yang bisa meracuni ASI Anda.

Kebutuhan harian asam linoleat untuk bayi

Asam linoleat bisa didapatkan dari omega-3 dan omega-6. Kebutuhan harian untuk bayi Anda mungkin akan berbeda-beda, tergantung usia mereka. Untuk anak usia 1-3 tahun, asupan yang disarankan adalah:

  • 7 gram omega-6 per hari
  • 0,7 gram omega-3 per hari

Sementara, untuk anak usia 4-8 tahun, asupan yang disarankan adalah sebagai berikut:

  • 10 gram omega-6 per hari
  • 0,9 gram omega-3 per hari

Bayi Anda bisa mendapatkan asupan omega-6 yang berlimpah dari berbagai makanan. Nutrisi ini bisa didapatkan dari susu dan berbagai minyak yang digunakan untuk memasak. Misalnya seperti minyak jagung, minyak zaitun, dan minyak bunga matahari.

Anda mungkin perlu lebih berfokus untuk mencari sumber asupan omega-3. Karena, makanan omega-3 yang cocok untuk bayi tidak terlalu mudah untuk didapatkan. Anda mungkin bisa mendapatkannya dari telur, salmon, tahu, kedelai, dan kubis.

Dengan memperhatikan asupan asam linoleat untuk bayi, Anda bisa menjaga kesehatan bayi Anda. Perkembangan bayi Anda bisa menjadi lebih baik secara keseluruhan dengan asupan asam linoleat yang memadai.

Olahraga Ibu Menyusui Tanpa Sebabkan Masalah Menyusui

Pasca melahirkan, Anda tentu membayangkan bisa melakukan berbagai hal kembali yang sempat terkendala ketika mengandung. Salah satunya adalah melakukan olahraga untuk membuat tubuh kembali segar dan berat badan bisa kembali ideal. Namun, kebanyakan oran juga ragu untuk melakukan olahraga ibu menyusui karena berbagai sebab.

Kekhawatiran akan menurunnya produksi air susu ibu (ASI) menjadi hal utama yan menghalangi banyak orang melakukan olahjraga ibu menyusui. Di samping itu, banyak orang beranggapan olahraga akan menghabiskan banyak waktu sehingga sulit dilakukan sebab si kecil selalu ingin berada dalam dekapan. Alhasil selama menyusui, Anda pun menjadi tidak pernah olahraga sehingga berdampak pada kebugaran tubuh yang berkurang sampai bentuk tubuh yang sulit untuk kembali seperti ke awal sebelum hamil.

Padahal sebenarnya, olahraga ibu menyusui bisa dengan aman dilakukan. Melakukan olahraga ketika menyusui pun tidak serta-merta akan mengurangi produksi ASI Anda jika dilakukan dengan benar. Berikut ini tips-tips yang bisa Anda ikuti guna dapat melakukan olahraga ibu menyusui tanpa mengkhawatirkan produksi ASI maupun problematika waktu.

  • Sedikit Tambahkan Kalori

Ibu menyusui setidaknya membutuhkan 500 kalori lebih tinggi daripada kebutuhan wanita dewasa agar bisa menghasilkan produk ASI yang mencukupi. Jadi jika wanita dewasa membutuhkan sekitar 1.200—1.500 kalori per hari, ibu yang sedang menyusui baiknya mengonsumsi makanan dan minuman dengan nilai hingga 2.000 kalori.

Khusus jika Anda ingin melakukan olahraga ibu menyusui, tambahlah sedikit lagi asupan kalori Anda. Ini guna memastikan bahwa kalori yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi ASI tidak terganggu dengan kegiatan olaraga Anda. Satu gelas susu full cream ataupun satu porsi camilan sore bisa menjadi penolong untuk mempertahankan produksi ASI di tengah aktivitas olahraga.

  • Perbanyak Minum Air

Tubuh yang terhidrasi dengan baik bisa menjamin produksi ASI tetap terjaga. Sebaliknya ketika Anda mengalami dehidrasi, besar kemungkinan produksi ASI akan berkurang dan tidak mampu memenuhi kebutuhan tumbuh kembang si buah hati. Inilah yang perlu Anda waspadai sebab ketika berolahraga, tubuh cenderung lebih banyak mengeluarkan cairan yang bisa membuat dehidrasi.

Namun, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan olahraga ibu menyusui. Anda hanya perlu menyiasatinya dengan memperbanyak minum air putih sebelum dan sesudah berolahraga. Jika diperlukan, Anda juga bisa mengonsumsi susu kacang ataupun jus sayuran segar guna memastikan suplai ASI tetap terjaga, meskipun Anda aktif berolahraga.

  • Pompa Sebelum Berolahraga

Kemungkinan suplai ASI berkurang sesaat setelah berolahraga tetap ada. Namun tenang saja, ASI akan kembali terproduksi dengan lancar apabila jumlah kalori yang Anda asup mencukupi diserta hidrasi yang memadai. Hanya saja perlu diingat, anak Anda bisa meminta ASI kapan saja, tidak terkecuali bertepatan setelah Anda berolahraga.

Tidak perlu bingung. Anda bisa melakukan strategi memompa ASI sesaat sebelum olahraga. ASI yang dipompa tersebut khusus diperuntukkan jika anak meminta ASI sesaat setelah latihan Anda selesai. Anda kenyang, Anda pun bisa tenang. Memompa ASI sebelum olahraga juga dapat membuat latihan lebih nyaman karena menghindari payudara yang terasa penuh dan membuat Anda tidak bebas bergerak.

  • Olahraga di Rumah

Waktu adalah segalanya bagi ibu menyusui. Apalagi jika Anda kerap melakukan menyusui langsung, Anda mesti siap jika anak Anda ingin menyusu kapan saja ketika Anda tengah berolahraga.

Untuk mempermudah kegiatan olahraga sambil menyusui, baiknya lakukan olahraga simpel yang bisa dilakukan dari rumah. Yoga ataupun aerobik yang mengambil contoh dari pemutar rekaman DVD bisa menjadi pilihan.

***

Melakukan olahraga ibu menyusui akan membantu tubuh memproduksi hormon endorfin. Alih-alih bermasalah bagi produksi ASI, produksi hormon ini bisa mencegah Anda dari stres sehingga kuantitas dan kualitas air susu bisa terjaga.

Kenali Ciri Ciri Bayi Kuning Berikut Ini

Penyakit kuning, atau dalam dunia medis dikenal dengan nama jaundice, biasa ditemukan pada bayi yang terlahir premature. Penyakit ini biasanya muncul pada minggu pertama sejak bayi lahir, dan lebih sering dijumpai pada bayi laki-laki dibandingkan dengan bayi perempuan. Ciri ciri bayi kuning dapat dilihat dari warna kulit dan bagian putih mata yang tampak menguning. Pada bayi baru lahir yang sehat dan tidak premature, penyakit kuning bayi tidak perlu dikhawatirkan, dan biasanya akan hilang sendiri setelah beberapa hari. Namun, apabila perawatan dibutuhkan, bayi akan lebih responsif jika mendapatkan terapi non-invasif. Dalam kasus yang langka, penyakit kuning bayi yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak dan bahkan kematian.

Gejala

Ciri ciri bayi kuning yang paling tampak adalah warna kulit dan sclerae (bagian putih mata) yang berubah kuning. Hal ini biasanya bermula di bagian kepala, untuk kemudian menyebar ke dada, perut, lengan, dan kaki. Selain gejala tersebut, tanda-tanda penyakit kuning bayi lain di antaranya adalah mengantuk, kotoran yang pucat (bayi yang diberi ASI seharusnya memiliki kotoran berwarna kuning kehijauan, dan bayi yang diberi formula lewat botol memiliki warna kotoran mustard kehijauan), makan atau mengisap yang buruk, dan air seni (urin) berwarna gelap (urin bayi yang baru lahir harus jernih dan tidak berwarna. Dalam kasus yang lebih parah, ciri ciri bayi kuning juga melibatkan gejala serius seperti perut dan kaki yang kuning, mengantuk, tidak dapat bertambah berat badan, makan yang buruk, serta mudah terganggu.

Penyebab dan faktor risiko

Penyakit kuning pada bayi disebabkan oleh bilirubin yang berlebih. Bilirubin merupakan produk limbah, yang diproduksi ketika sel darah merah teruria. Biasanya sel darah merah diurai di dalam hati untuk kemudian dibuang dari tubuh lewat kotoran. Sebelum bayi dilahirkan, ia memiliki hemoglobin dalam bentuk yang berbeda. Setelah lahir, bayi akan mengurai hemoglobiin tua dengan cepat. Hal ini akan menyebabkan level bilirubin yang lebih tinggi dibandingkan dengan biasanya, dan perlu disaring keluar dari saluran darah oleh hati dan dikirim ke usus untuk dibuang. Akan tetapi, hati yang belum berkembang tidak dapat menyaring bilirubin dengan efektif, sehingga menyebabkan hyperbilirubinemia (bilirubin berlebih). Penyakit kuning pada bayi juga dihubungkan dengan gangguan kesehatan serius seperti penyakit hati, anemia sel sabit, pendarahan di bawah kulit kepala (cephalohematoma) yang disebabkan oleh persalinan yang sulit, sepsis atau infeksi darah, ketidaknormalan pada sel darah merah bayi, saluran empedu atau usus yang tersumbat, ketidakcocokan rhesus atau ABO (ketika ibu dan bayi memiliki golongan darah yang berbeda, antibodi ibu menyerang sel darah merah ibu), jumlah sel darah merah yang lebih tinggi (lebih sering dijumpai pada bayi berukuran kecil atau bayi kembar), defisiensi enzim, infeksi bakteri atau virus, hypothyroidism, hepatitis atau peradangan hati, hypoxia atau level oksigen yang rendah, dan beberapa jenis infeksi seperti syphilis dan rubella.

Sementara itu, faktor risiko terjadinya ciri ciri bayi kuning adalah lahir premature yang memiliki hati belum berkembang dan jarang buang air besar, menyebabkan penyaringan bilirubin yang lambat dan pembuangan bilirubin yang jarang. Bayi yang tidak mendapatkan cukup nutrisi atau kalori dari ASI juga dapat dehidrasi dan berisiko menderita penyakit kuning. Lebam pada saat lahir juga dapat menyebabkan sel darah merah untuk terurai dengan lebih cepat, sehingga menyebabkan level bilirubin yang lebih tinggi.